Sebuah ledakan gas dahsyat mengguncang Karachi, kota pelabuhan terbesar di Pakistan, pada Kamis lalu. Insiden tragis ini menghancurkan sebagian gedung apartemen dan menyebabkan sedikitnya 13 orang tewas, termasuk wanita dan anak-anak, serta melukai banyak lainnya. Tim penyelamat masih berjibaku mencari korban yang mungkin terjebak di bawah reruntuhan.
Menurut Kepala Polisi setempat, Rizwan Patel, ledakan terjadi di area permukiman padat Karachi, ibu kota Provinsi Sindh selatan. Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung dengan harapan menemukan penyintas di tengah tumpukan puing.
Tragedi ini menyoroti risiko penggunaan gas di Pakistan. Seperti di banyak wilayah lain, sebagian besar rumah di Karachi mengandalkan gas alam untuk memasak. Namun, tekanan gas alam yang sering rendah membuat banyak warga beralih ke tabung gas elpiji (LPG) sebagai alternatif. Penggunaan tabung gas ini, jika tidak memenuhi standar keamanan atau tidak ditangani dengan benar, berpotensi menimbulkan bahaya besar.
Insiden serupa bukan yang pertama kali terjadi. Pada bulan Juli lalu, ledakan gas usai resepsi pernikahan di Islamabad bahkan merenggut delapan nyawa, termasuk pengantin baru. Peristiwa berulang ini menjadi pengingat penting akan perlunya perhatian lebih terhadap keselamatan instalasi dan penggunaan gas di seluruh negeri.