Washington, DC - Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bakal meminta negara-negara Eropa membuka cadangan diesel mereka. Langkah ini diambil seiring rencana Amerika Serikat (AS) yang tengah mengkaji pelarangan ekspor bahan bakar tersebut ke luar negeri.
Isu ini mencuat setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mendesak Eropa untuk segera melepas stok cadangan mereka. Bessent beralasan, para petani, pengemudi truk, dan pelaku usaha di AS tidak boleh menanggung beban kenaikan harga yang melonjak saat ini.
Krisis ini dipicu oleh perang di Iran yang membuat harga minyak meroket. Situasi ini menjadi perhatian utama para pemilih menjelang pemilu sela (midterm elections) yang krusial bagi pemerintahan Trump. Sebagai informasi, AS merupakan pemasok diesel vital bagi dunia dengan ekspor mencapai 1,2 hingga 1,5 juta barel per hari. Jika ekspor diblokir, para ahli memperingatkan harga di negara lain akan semakin tertekan.
Menghadapi ancaman ini, Inggris telah menggelar pembicaraan dengan mitra Eropa pada Kamis lalu untuk membahas potensi pelepasan cadangan diesel. Menteri Energi Inggris, Martin McCluskey, terlibat dalam panggilan tersebut. Pemerintah Inggris menegaskan tidak ada kekhawatiran soal kelangkaan, meski harga diprediksi terus naik. Harga diesel di Inggris sendiri sempat menyentuh rekor tertinggi minggu ini, mendekati 200 pence per liter.
Sumber BBC menyebut, persiapan respons terkoordinasi memang diperlukan, namun cadangan darurat dari pelepasan strategis awal tahun masih tersedia. Komisi Eropa juga mengonfirmasi adanya komunikasi intens dengan pemerintahan AS terkait situasi ini. Penutupan Selat Hormuz yang mengangkut seperlima minyak dunia serta pembatasan ekspor dari Rusia menjadi pemicu utama lonjakan harga global.