Serangan rudal yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan 14 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Insiden ini bukan serangan tunggal; kelompok Houthi dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan yang terjadi sepanjang pekan ini.
Rekaman CCTV dari dalam bandara menunjukkan kepanikan saat salah satu rudal menghantam gedung pada Sabtu lalu. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa mereka menargetkan bandara dengan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Mereka juga menyerang fasilitas minyak dan Bandara Dammam di Arab Saudi bagian timur.
Houthi memperingatkan maskapai penerbangan dan penumpang untuk menghindari penggunaan bandara dan wilayah udara Arab Saudi. Mereka bersumpah akan melanjutkan "operasi eskalasi di dalam Arab Saudi", dan menyebut semua bandara Saudi sebagai target potensial, kecuali bandara di kota suci Mekah dan Madinah.
Analisis Dampak: Serangan ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi keamanan penerbangan internasional di Timur Tengah. Maskapai global mungkin akan meninjau ulang rute penerbangan mereka, yang berpotensi mengganggu jadwal penerbangan dan meningkatkan biaya operasional. Bagi masyarakat umum, terutama warga sipil di Arab Saudi, situasi ini menciptakan rasa tidak aman yang mendalam, terutama saat menggunakan transportasi udara. Konflik Yaman yang berkepanjangan kini semakin merembet ke infrastruktur sipil negara tetangga, memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan.