MELBOURNE - Legenda maraton asal Kenya, Eliud Kipchoge, kembali membuktikan kelasnya di usia yang tidak lagi muda. Peraih dua medali emas Olimpiade itu baru saja memenangkan lomba maraton pertamanya dalam tiga tahun terakhir di Melbourne, Australia, Minggu (20/4).
Kipchoge mencatatkan waktu impresif 2 jam, 9 menit, dan 10 detik. Catatan waktu ini memecahkan rekor lintasan Melbourne, dua detik lebih cepat dari rekor sebelumnya. Ini menjadi kemenangan pertamanya sejak Berlin 2023 silam.
Melbourne menjadi pemberhentian ketiga dalam kampanye "World Tour" yang digagas Kipchoge. Proyek ambisius ini bertujuan menyelesaikan maraton di tujuh benua, termasuk Antartika, dalam kurun waktu dua tahun. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan lomba di Afrika Selatan dan Brasil.
Pelari berusia 41 tahun itu mulai melepaskan diri dari kejaran lawan di 10 kilometer terakhir. Rute lomba kali ini terbilang unik karena melewati sirkuit Formula One Albert Park sebelum akhirnya finis di dalam stadion ikonik Melbourne Cricket Ground (MCG).
"Lintasannya luar biasa, saya senang melihat orang-orang berdiri, bersorak, dan meneriakkan nama saya," ujar Kipchoge usai lomba. Ia mengaku sengaja memperlambat langkahnya saat memasuki MCG untuk menyapa para penggemar.
Meski sudah tidak lagi memegang rekor dunia, Kipchoge menegaskan bahwa kondisi fisiknya masih prima. Ia bahkan menyebut dirinya masih mampu bersaing dengan atlet generasi muda atau "Gen Z".
Di posisi kedua, pelari tuan rumah Thomas Do Canto finis dengan waktu 2:10:35. Sementara itu, Reece Edwards melengkapi podium di posisi ketiga dengan catatan waktu 2:14:33. Di kategori putri, pelari Selandia Baru Camille French keluar sebagai juara dengan waktu 2:28:25.
Analisis Dampak: Kemenangan ini bukan sekadar trofi, melainkan bukti ketahanan atlet senior di tengah dominasi pelari muda. Bagi industri olahraga, proyek "World Tour" Kipchoge berpotensi besar mendongkrak popularitas maraton di wilayah-wilayah non-tradisional, sekaligus menggalang dana filantropi yang signifikan. Ini juga menjadi pukulan moral positif bagi Kenya sebagai kiblat atletik dunia.