Awal Februari ini, jagat sinema diguncang kabar tak sedap dari festival film bergengsi Berlinale. Sejumlah nama besar Hollywood, mulai dari Tilda Swinton hingga Javier Bardem, melayangkan kritik tajam yang menuding festival tersebut terlibat dalam ârasisme anti-Palestinaâ dan bungkam terhadap konflik di Gaza.
Bersama 81 pekerja film lainnya yang merupakan alumni Berlinale, mereka meminta penyelenggara festival untuk secara terang-terangan menyatakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut âgenosida Israelâ di Gaza. Surat terbuka yang dimuat di Variety ini juga mengecam pernyataan Presiden Juri Wim Wenders yang memilih untuk âtidak mencampuri politikâ saat ditanya mengenai Gaza. Sikap ini dianggap kontradiktif dengan kebijakan festival terhadap perang di Ukraina dan situasi di Iran.
Para sineas juga menyoroti dugaan sensor dan tindakan represif yang dialami pembuat film pro-Palestina pada Berlinale tahun lalu. Beberapa di antaranya bahkan sampai diinterogasi polisi hanya karena menyampaikan pidato solidaritas, sementara pimpinan festival secara keliru menuduh pidato tersebut âdiskriminatifâ.
Kritik ini bukan yang pertama. Sebelumnya, penulis Arundhati Roy juga menarik diri dari festival dengan alasan âpernyataan tak masuk akalâ dari anggota juri. Kontroversi ini semakin meruncing di tengah laporan mengerikan terkait konflik Gaza, termasuk penyelidikan Al Jazeera yang mengungkap penggunaan senjata termobarik oleh pasukan Israel, yang sanggup melenyapkan korban tanpa sisa. Ironisnya, Jerman, negara tuan rumah Berlinale, justru menjadi salah satu pengekspor senjata terbesar ke Israel dan dilaporkan menekan suara-suara pro-Palestina di dalam negerinya.
Fenomena ini jelas menghadirkan dilema besar bagi Berlinale. Sebagai salah satu festival film paling prestisius, tuntutan agar mereka konsisten dalam menyuarakan kemanusiaan dan keadilan semakin kuat. Kritik dari para seniman top dunia ini bukan sekadar protes biasa, melainkan cerminan dari meningkatnya polarisasi dan ekspektasi publik terhadap institusi budaya agar tidak netral pada isu-isu kemanusiaan fundamental. Keberanian para seniman ini membuka mata banyak pihak, sekaligus memberi tekanan pada Berlinale untuk meninjau kembali integritas dan independensinya di panggung global.