JAKARTA - Negara-negara Teluk kian intensif menjalankan diplomasi ke Iran demi meredakan ketegangan di Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran serangan baru Amerika Serikat (AS) ke Teheran serta memanasnya konflik antara milisi Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi.
Pada Senin lalu, tiga negara penandatangan Pakta Pertahanan Bersama MekahāPakistan, Arab Saudi, dan Turkiābersama diplomat Qatar bertemu pejabat tinggi Iran. Pertemuan di Teheran itu dihadiri langsung Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman Al Saud. Ini menjadi kontak level tinggi pertama antara Iran dan negara pakta pertahanan tersebut sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai 28 Februari.
Namun, upaya itu belum membuahkan hasil. Reuters melaporkan Qatar telah menyodorkan draf kesepakatan kepada Iran, tetapi Teheran disebut menolak beberapa poin dan tak mau berkompromi soal isu nuklir. Pengamat menilai perbedaan pandangan yang tajam dan minimnya kepercayaan membuat kesepakatan regional sulit terwujud.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyerukan perlunya kerangka keamanan regional, termasuk pakta non-agresi antara negara Teluk dan Iran, yang tak lagi menjadikan AS sebagai penyedia keamanan utama. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam operasi militer baru terhadap Iran karena harga bahan bakar yang melonjak menjelang pemilu sela November.
Dampak bagi Masyarakat: Ketegangan ini berisiko mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global. Jika konflik melebar, harga energi dunia bisa melonjak dan berdampak pada kenaikan biaya hidup masyarakat luas, termasuk di Indonesia.