Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat kembali melanda negara bagian Minas Gerais, tenggara Brazil, menyisakan duka mendalam. Musibah ini telah merenggut nyawa setidaknya 23 orang dan membuat lebih dari 40 warga lainnya dinyatakan hilang.
Tim penyelamat, dibantu anjing pelacak khusus bencana, terus bekerja keras menyisir timbunan puing dan lumpur tebal. Mereka fokus mencari korban di wilayah terdampak parah, terutama di kota Juiz de Fora, di mana 18 kematian telah tercatat dan dilaporkan ada 20 insiden tanah longsor yang merobohkan rumah-rumah. Di kota Uba yang berdekatan, tujuh korban jiwa juga ditemukan. Tak kurang dari 440 warga terpaksa mengungsi di Juiz de Fora, yang kini terendam lumpur akibat luapan sungai.
Bencana ini dipicu oleh hujan yang sangat intens sejak Senin lalu, dengan curah hujan ekstrem mencapai 180 milimeter hanya dalam empat jam di beberapa area. Walikota Juiz de Fora, Margarida Salomao, menyebut ini sebagai 'Februari terbasah dalam sejarah' dan 'hari tersedih dalam masa kepemimpinannya'. Harapan tetap menyala di tengah upaya penyelamatan, seperti cerita seorang anak yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan setelah dua jam pencarian.
Presiden Luiz Inacio Lula da Silva sudah menegaskan komitmen pemerintah untuk membantu penuh, mulai dari bantuan kemanusiaan, pemulihan layanan dasar, hingga dukungan rekonstruksi. Namun, upaya penyelamatan dan pemulihan diperkirakan akan sangat menantang, mengingat ramalan cuaca menunjukkan hujan lebat masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, menambah risiko dan mempersulit mobilitas tim di lapangan.
Fenomena cuaca ekstrem seperti ini, yang menyebabkan bencana hidrometeorologi parah, kian sering terjadi di berbagai wilayah dunia, tak terkecuali Brazil. Banyak ahli mengaitkannya dengan dampak perubahan iklim global. Tragedi ini bukan hanya tentang kerugian jiwa dan harta benda, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi warga terdampak dan memerlukan koordinasi serta solidaritas tinggi untuk pemulihan jangka panjang.