Gaza, Palestina – Sebuah krisis kesehatan baru mengintai anak-anak di Gaza. Bukan hanya luka fisik, tetapi gangguan pendengaran massal akibat rentetan ledakan bom dalam perang Israel yang terus berlangsung sejak Oktober 2023.
Salah satu korban adalah Wateen al-Ajrami, balita berusia satu tahun. Ledakan di dekat tempat perlindungan keluarganya di Jabalia, Gaza utara, pada Agustus lalu, membuatnya kehilangan hampir seluruh pendengarannya. Hasil tes medis menunjukkan Wateen mengalami gangguan pendengaran parah: 85 persen di telinga kiri dan 90 persen di telinga kanan. Dokter menyebut gelombang ledakan sebagai penyebab utamanya.
Kondisi Wateen bukanlah kasus tunggal. Data dari lembaga PBB dan organisasi kesehatan mencatat lonjakan drastis jumlah anak yang mengalami gangguan pendengaran parsial hingga total. Sebelum perang, diperkirakan ada 20.000 orang dengan disabilitas pendengaran di Gaza. Kini, angka itu melonjak menjadi 30.000 hingga 40.000 orang, termasuk banyak anak-anak.
Medis menjelaskan, gelombang ledakan tidak hanya merusak gendang telinga, tetapi juga menyebabkan trauma otak dan syok psikologis berat. Sayangnya, akses terhadap alat bantu dengar dan implan koklea sangat terbatas akibat hancurnya sistem kesehatan Gaza. Keluarga Wateen masih menunggu rujukan medis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk berobat ke luar Gaza, namun hingga kini belum ada kepastian. Jika tidak segera ditangani, generasi Gaza berisiko tumbuh dengan disabilitas pendengaran permanen di tengah reruntuhan perang.