TAIPEI - Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato Hari Nasional di depan Kantor Presiden, Taipei, Sabtu lalu. Di hadapan ribuan orang termasuk diplomat asing, ia menegaskan Taiwan mencintai perdamaian dan tidak akan melepaskan kebebasan mereka.
"Kami terbuka untuk dialog, tapi tidak akan menerima penundukan," ujar Lai. Ia menambahkan bahwa peningkatan investasi pertahanan bukan untuk memprovokasi, melainkan mencegah perang.
Peringatan ini menandai 115 tahun pemberontakan 1911 yang menggulingkan dinasti kekaisaran terakhir China. Taiwan dengan 23 juta penduduk hidup di bawah ancaman serangan China, yang mengklaim pulau itu bagian dari wilayahnya dan menyebut Lai sebagai "separatis".
Lai menuduh China terus menekan melalui aktivitas militer dan zona abu-abu untuk mengubah status quo di Selat Taiwan. "Perdamaian tidak bisa hanya bergantung pada harapan, dan toleransi tidak boleh menjadi alasan bagi agresor untuk terus merangsek," tegasnya.
Pemerintah Lai mengalokasikan anggaran pertahanan rekor NT$1,1 triliun (US$34,5 miliar) untuk 2027, lebih dari 3 persen PDB. China sebelumnya menggelar latihan perang di sekitar pulau itu setelah pidato Hari Nasional Lai pada 2024, namun tidak tahun lalu. Latihan terakhir pada akhir Desember setelah kesepakatan senjata US$11 miliar dengan Washington.
Lai menyambut baik dialog AS-China, tapi menegaskan "harus ada penghormatan terhadap hak rakyat Taiwan untuk eksis". Ia mendesak demokrasi Indo-Pasifik bersatu menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
AS beralih hubungan diplomatik dari Taipei ke Beijing hampir 50 tahun lalu, namun tetap menjadi pendukung keamanan terpenting Taiwan. Taiwan kini menunggu persetujuan Trump untuk senjata senilai US$14 miliar, termasuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS.
Sengketa ini bermula dari perang saudara China, ketika pasukan nasionalis Chiang Kai-shek mundur ke Taiwan pada 1949 setelah kalah dari komunis Mao Zedong. Republik China tetap menjadi nama resmi pulau itu.