CARACAS - Hubungan Venezuela dan Trinidad dan Tobago kembali memanas. Kali ini, Caracas menuding negara kepulauan tetangganya itu sebagai biang keladi tumpahan minyak yang mencapai perairan Venezuela. Pemerintah Venezuela, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan tumpahan ini mengancam ekosistem laut yang rapuh dan merusak mata pencaharian nelayan setempat.
Dalam pernyataan resminya, Jumat lalu, Venezuela mendesak Trinidad dan Tobago untuk segera bertanggung jawab penuh. Mereka meminta Port of Spain menghentikan tumpahan lebih lanjut dan bersikap transparan soal penyebab serta dampak bencana ini. Ketegangan ini bukan tanpa sebab. Sebelumnya, Caracas geram karena pemerintah baru Trinidad mendukung tindakan Amerika Serikat yang berujung pada penculikan mantan Presiden Nicolas Maduro.
Menanggapi tuduhan keras itu, Menteri Energi Trinidad, Roodal Moonilal, membantah. Ia mengklaim pihaknya sudah mengerahkan Penjaga Pantai dan Garda Udara untuk patroli, bahkan menggunakan drone, namun tak menemukan tumpahan minyak yang dimaksud. Trinidad pun meminta Venezuela memberikan koordinat pasti lokasi tumpahan yang disebut terdeteksi lewat citra satelit.
Insiden ini mengingatkan pada kejadian serupa di Februari 2024, saat sebuah kapal tanker tenggelam di perairan Trinidad dan polusinya menyebar hingga ke zona laut Venezuela. Jarak kedua negara memang sangat dekat, hanya sekitar 10 kilometer. Hubungan keduanya memang sedang berada di titik terendah sejak Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar kembali berkuasa dan mengambil sikap keras terhadap imigran Venezuela, serta mempererat hubungan dengan AS.
Analisis: Bagi masyarakat pesisir Venezuela, tumpahan minyak bukan sekadar isu diplomatik. Ini adalah pukulan telak bagi industri perikanan yang sudah terpuruk akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Jika terbukti benar, kerusakan ekosistem bisa berlangsung bertahun-tahun. Di sisi lain, tuduhan tanpa bukti koordinat yang jelas membuat Trinidad sulit menerima begitu saja. Situasi ini menunjukkan bagaimana politik dan lingkungan hidup bisa menjadi bom waktu di kawasan Karibia yang kaya akan sumber daya alam.