OPERASI RAHASIA AS SITA URANIUM IRAN, DUNIA TAHAN NAPAS? - Berita Dunia
← Kembali

OPERASI RAHASIA AS SITA URANIUM IRAN, DUNIA TAHAN NAPAS?

Foto Berita

Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah drastis: mengirim pasukan khusus ke Iran. Misi mereka? Menyita cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi milik Teheran. Para ahli mengingatkan, operasi militer semacam ini bukan hanya rumit, tapi juga berisiko sangat tinggi, dengan berbagai tantangan mulai dari aspek kimia, logistik, hingga taktis di lapangan.

Wacana ini muncul seiring tuntutan utama AS agar Iran tidak memiliki senjata nuklir atau kapasitas untuk memproduksinya. Ini juga menjadi justifikasi Washington saat menyerang fasilitas nuklir Iran dalam konflik 12 hari dengan Israel tahun lalu, dan alasan dimulainya konflik yang masih berlangsung sejak Februari, meskipun AS dan Iran sempat berada dalam pembicaraan aktif.

Iran sendiri bersikukuh bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan energi sipil, meski telah memperkaya uranium jauh melampaui ambang batas yang dibutuhkan untuk itu. Pejabat Iran menyatakan terbuka untuk berdiskusi mengurangi tingkat pengayaan, namun menolak membubarkan seluruh program nuklir mereka, yang dianggap sebagai kedaulatan nasional.

Situasinya makin panas karena cadangan uranium Iran saat ini diperkirakan mencapai 440 kilogram dengan tingkat pengayaan 60 persen. Angka ini, menurut Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Maret lalu, secara teori cukup untuk memproduksi lebih dari 10 hulu ledak nuklir. Grossi menyebut, hampir separuh uranium yang diperkaya 60 persen itu kemungkinan masih disimpan di kompleks terowongan fasilitas nuklir Isfahan. Sejumlah tak diketahui juga ada di fasilitas Natanz. Kedua situs bawah tanah ini, bersama Fordow, diketahui telah rusak berat atau dihancurkan dalam serangan udara AS-Israel tahun lalu dan menjadi sasaran dalam konflik saat ini.

Para ahli militer menegaskan, bahkan jika lokasi uranium diketahui, operasi darat untuk menyitanya akan menghadapi rintangan besar. Isfahan, misalnya, terletak lebih dari 480 kilometer di daratan, jauh dari kapal angkatan laut AS terdekat. Ini berarti pasukan AS, mungkin bersama tentara Israel, harus diangkut jarak sangat jauh melintasi zona perang aktif, sambil membawa peralatan berat seperti ekskavator.

Langkah militer sepihak seperti ini dipastikan akan memicu gelombang gejolak baru di Timur Tengah. Tidak hanya berpotensi memperluas konflik yang sudah ada, tapi juga bisa menyeret aktor internasional lainnya ke dalam pusaran ketegangan. Dampaknya, harga minyak dunia bisa meroket, menambah beban ekonomi global yang sudah tidak menentu. Selain itu, upaya ini berisiko memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut, memicu kritik keras dari komunitas internasional yang selama ini mendesak solusi diplomatik, bukan eskalasi militer. Pembatalan perjanjian nuklir JCPOA oleh Trump di masa lalu telah mempersulit jalan diplomasi, dan operasi militer kali ini hanya akan semakin menutup ruang dialog yang krusial.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook