JAKARTA - Hasil penghitungan suara Pemilu Parlemen Israel (Knesset) pada Selasa lalu berakhir tanpa pemenang mutlak. Dengan hampir 90 persen suara masuk, kedua blok politik utama sama-sama gagal mencapai ambang batas 61 kursi untuk membentuk pemerintahan.
Blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan meraih 53 kursi. Sementara itu, blok oposisi yang digawangi Gadi Eisenkot tertinggal di angka 48 kursi. Menariknya, partai-partai yang mayoritas diisi warga Arab mencatat sejarah dengan meraih 19 kursi. Angka ini melonjak berkat partisipasi pemilih Palestina di Israel yang mencapai rekor 80 persen.
Kondisi ini menempatkan partai Arab di posisi sentral dalam perhitungan koalisi, meski sejumlah pemimpin partai Zionis menolak bekerja sama dengan mereka. Netanyahu bahkan tegas menyebut pembentukan pemerintahan yang bergantung pada partai Arab sebagai 'aib dan cela'. Ia menuduh partai-partai tersebut anti-Zionis dan membahayakan eksistensi Israel.
Meski Likud menjadi partai terbesar dengan 26 kursi, jalan Netanyahu untuk kembali berkuasa masih terjal. Ia kekurangan delapan kursi untuk mayoritas. Di sisi lain, Eisenkot mengklaim publik Israel telah 'memilih untuk menolak' Netanyahu dan berjanji menerjemahkan keputusan rakyat menjadi pemerintahan yang Zionis.
Analisis Dampak: Kebuntuan politik ini berpotensi memicu instabilitas domestik dan memperlambat pengambilan kebijakan strategis Israel. Bagi masyarakat internasional, terutama Palestina, tingginya perolehan suara partai Arab menjadi sinyal kuat bahwa aspirasi politik warga Arab-Israel semakin tidak bisa diabaikan dalam peta kekuatan politik Timur Tengah.