PARIS - Petenis nomor satu dunia asal Belarus, Aryna Sabalenka, harus mengubur mimpinya merebut gelar juara Perancis Terbuka 2024. Unggulan teratas itu tumbang secara dramatis di tangan petenis Rusia, Diana Shnaider, pada babak perempat final, Rabu (5/6) waktu setempat.
Bermain di lapangan Philippe-Chatrier yang berangin, Sabalenka sebenarnya memulai pertandingan dengan gemilang. Ia merebut set pertama 6-3 dan unggul 4-1 di set kedua. Namun, kegemilangan itu sirna dalam sekejap. Sabalenka seperti kehilangan arah, melakukan total 57 kesalahan sendiri (unforced errors) yang tidak lazim bagi petenis sekelasnya. Ia akhirnya kalah dengan skor 3-6, 7-5, 6-0.
Bagi Shnaider (22 tahun), ini adalah kemenangan terbesar dalam kariernya. Baru kedua kalinya ia mengalahkan petenis top 10 dunia. "Sejujurnya, saya tidak bisa berkata-kata. Saya sangat bahagia. Kondisi angin memang sulit, dan ini pertama kalinya saya melawan Aryna. Pasti ada rasa gugup," ujar Shnaider usai pertandingan.
Kekalahan ini menjadi yang paling pahit bagi Sabalenka. Ia gagal menjadi wanita pertama sejak Serena Williams yang mampu menembus tujuh semifinal Grand Slam secara beruntun. Penampilannya yang amburadul mengingatkan kita pada final tahun lalu saat ia juga menyia-nyiakan keunggulan besar melawan Coco Gauff.
Analisis Dampak: Kekalahan ini membuka peta persaingan di turnamen Grand Slam tanah liat ini. Dengan gugurnya Sabalenka, tidak ada lagi mantan juara Grand Slam yang tersisa di nomor tunggal putri. Ini menjadi peluang emas bagi petenis-petenis non-unggulan untuk merebut gelar. Shnaider sendiri akan berhadapan dengan petenis Polandia, Maja Chwalinska, di semifinal. Sementara di bagian undian lain, Marta Kostyuk atau Mirra Andreeva menunggu pemenang laga tersebut. Situasi ini menjanjikan final yang tidak terduga dan menarik untuk disaksikan.