Peta politik Israel memasuki babak krusial. Pemilu terbaru menunjukkan persaingan sengit antara Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot. Hasil polling terakhir menempatkan keduanya dalam posisi 'neck-and-neck', alias saling kejar-kejaran suara.
Menariknya, baik blok pendukung Netanyahu maupun blok oposisi diprediksi tidak akan mampu meraih 61 kursi parlemen yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Kondisi ini membuka jalan bagi minggu-minggu atau bahkan bulan-bulan negosiasi politik yang melelahkan untuk mencari koalisi.
Isu keamanan menjadi senjata utama oposisi. Mereka gencar mengkritik kegagalan intelijen pada serangan 7 Oktober lalu yang menewaskan hampir 1.200 orang. Oposisi menuntut komisi penyelidikan independen, sesuatu yang selama ini ditolak Netanyahu karena dianggap bias. Di sisi lain, Netanyahu kembali menjual citra sebagai 'Mr. Security' dengan mengklaim keberhasilan strategis di medan perang dan kedekatannya dengan Presiden AS Donald Trump.
Dampak bagi masyarakat Israel sangat luas. Sistem proporsional memaksa partai-partai untuk berkoalisi, dan kali ini garis batas ideologi sangat kaku. Blok 'perubahan' yang dipimpin Eisenkot, bersama Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, bertekad menumbangkan Netanyahu. Sementara itu, Netanyahu sangat bergantung pada aliansi dengan partai sayap kanan dan ultra-Ortodoks. Menariknya, suara komunitas Arab yang mencapai seperlima populasi bisa menjadi 'kingmaker', meski mayoritas partai Yahudi menolak bekerja sama dengan mereka. Selain itu, proses hukum korupsi yang menjerat Netanyahu dan rencana reformasi peradilan yang kontroversial menambah ketegangan politik di dalam negeri.