Pengadilan Inggris menjatuhkan denda sebesar 350.000 poundsterling atau sekitar Rp7 miliar kepada UK Athletics, induk organisasi atletik Inggris, atas kematian tragis atlet Paralimpiade asal Uni Emirat Arab, Abdullah Hayayei. Insiden memilukan ini terjadi pada 2017 saat Hayayei tengah berlatih di Newham Leisure Centre, London, untuk persiapan Kejuaraan Dunia Para Atletik.
Kala itu, sang atlet yang juga debutan di Paralimpiade Rio 2016 itu tewas di tempat setelah sebuah kandang lempar cakram berbahan logam roboh dan menimpa dirinya. Investigasi polisi dan otoritas keselamatan kerja mengungkap fakta mengejutkan: pelat dasar kisi-kisi logam penstabil kandang tersebut hilang. Kondisi ini membuat peralatan berada dalam keadaan sangat tidak aman.
UK Athletics telah mengaku bersalah atas tuduhan pembunuhan korporasi (corporate manslaughter) pada Februari lalu. Selain denda, mereka juga diharuskan membayar biaya pengadilan sebesar 44.000 poundsterling. Direktur olahraga kejuaraan saat itu, Keith Davies (78), juga dihukum dengan perintah kerja sosial selama 175 jam karena melanggar Undang-Undang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Jaksa Penuntut, Colin Gibbs, menegaskan bahwa kematian ini sepenuhnya bisa dihindari. "Tidak ada keraguan bahwa UK Athletics lalai secara brutal dalam manajemen keselamatan mereka. Mereka meninggalkan peralatan dalam kondisi yang sangat berbahaya, dan kematian Hayayei adalah akibat dari kelalaian itu," tegasnya.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia olahraga internasional, khususnya dalam hal standar keselamatan atlet. Kegagalan prosedur keamanan dasar di venue berstandar dunia menunjukkan bahwa tekanan untuk menyelenggarakan acara besar seringkali mengabaikan aspek vital: keselamatan manusia. Bagi para atlet disabilitas, kejadian ini juga menyoroti perlunya pengawasan ekstra terhadap aksesibilitas dan keamanan peralatan latihan.