Jakarta - Seorang mantan jenderal tinggi Israel yang sebelumnya ditugaskan sebagai negosiator utama pembebasan sandera, Nitzan Alon, baru-baru ini melontarkan pengakuan mengejutkan. Ia menyatakan bahwa kesepakatan untuk memulangkan seluruh tawanan Israel sebenarnya bisa tercapai jauh lebih awal, bahkan mungkin setahun sebelum Oktober 2025.
Dalam sebuah diskusi panel yang digelar oleh Washington Institute for Near East Policy, Alon menilai perpanjangan perang Gaza sebagai sebuah kesalahan strategis. Menurutnya, tujuan perang lainnya tidak akan terganggu jika kesepakatan diambil lebih cepat. Ia secara tegas menyebut klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang perlunya 'kemenangan total' sebelum bernegosiasi sebagai hal yang keliru.
Alon menambahkan bahwa gencatan senjata yang baru terwujud pada Oktober 2025 sebenarnya bisa diamankan jauh lebih awal. Ia menyayangkan adanya sandera yang tewas dalam masa penahanan, yang seharusnya bisa pulang dengan selamat jika negosiasi tidak berlarut-larut. Kesepakatan Oktober 2025 tersebut akhirnya membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan 20 sandera Israel.
Kritik ini juga diamini oleh mantan diplomat Israel, Alan Pinkas, yang menilai Netanyahu sengaja menunda berakhirnya perang. Senada dengan itu, Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menawarkan proposal gencatan senjata sejak hari pertama serangan Hamas, namun pihak Israel saat itu tidak tertarik untuk terlibat dalam pembicaraan tersebut. Pengakuan ini muncul menjelang pemilihan legislatif Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober, menambah tekanan politik bagi pemerintahan saat ini.