Ribuan warga Iran tumpah ruah di Teheran, Rabu kemarin, mengiringi kepergian Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri. Sosok yang dihormati ini tewas akibat serangan Israel, memicu gelombang kemarahan dan janji perlawanan tak tergoyahkan dari masyarakat Iran, bahkan di tengah gempuran peringatan keras dari Amerika Serikat.
Momen pemakaman ini bertepatan dengan peringatan 47 tahun Republik Islam Iran, menambah bobot emosional di tengah rentetan serangan Israel-AS sejak akhir Februari. Di Lapangan Enghelab, massa mengelu-elukan 'Allah Maha Besar, Khamenei Pemimpin Agung', sembari membawa poster bertuliskan 'Balas Dendam' dan foto kerabat yang gugur. Ini adalah penegasan bahwa semangat revolusi 1979 masih menyala, menjadi fondasi perlawanan terhadap tekanan eksternal.
Tak lama setelah itu, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan di televisi bahwa perang ini 'perlu' dan AS bertekad 'menyelesaikan pekerjaan' di Iran, terutama untuk memastikan Selat Hormuz 'terbuka, bebas, dan jelas'. Namun, ancaman Trump disambut dingin oleh warga Iran. Mereka menganggap pernyataan tersebut membingungkan bahkan bagi rakyat Amerika sendiri, dan menegaskan tak peduli dengan apa yang diucapkan Washington.
Meski sejumlah pejabat senior, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei (yang sudah memimpin Iran selama 36 tahun), dilaporkan tewas dalam serangan udara, sistem pemerintahan Iran tetap utuh dan kemampuan rudal serta drone mereka tak goyah. Tangsiri sendiri dikenal sebagai arsitek strategi penutupan Selat Hormuz bagi kapal-kapal AS dan Israel, menunjukkan betapa krusialnya jalur laut itu dalam konflik ini. Di balik unjuk rasa besar-besaran yang menunjukkan solidaritas, perlu dicatat bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintah Iran juga sempat memuncak pada Januari lalu. Ini mengindikasikan bahwa meski perlawanan terhadap musuh eksternal kuat, dinamika internal Iran tetap kompleks dan patut dicermati.