GAZA HANCUR LEBUR! HIDUP TERUS SULIT MESKI GENCATAN SENJATA - Berita Dunia
← Kembali

GAZA HANCUR LEBUR! HIDUP TERUS SULIT MESKI GENCATAN SENJATA

Foto Berita

Lebih dari 80 persen infrastruktur di Jalur Gaza luluh lantak. Ini adalah pemandangan suram yang harus dihadapi warga setiap hari, hidup dalam kondisi serba terbatas dan bantuan yang jauh dari cukup.

Di tenda pengungsiannya di Gaza City, Mahmoud Abdel Aal mengungkapkan rasa frustrasi dan kekhawatirannya. Ia merasa, tidak ada perbedaan signifikan antara kondisi saat perang dan setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Hamas dan Israel. "Tidak ada bedanya antara perang dan gencatan senjata, juga antara fase pertama dan kedua perjanjian: serangan terus berlanjut setiap hari," kata Abdel Aal kepada AFP. "Semua orang khawatir dan frustrasi karena tidak ada yang berubah."

Sejak gencatan senjata dimulai Oktober tahun lalu, serangan Israel di seluruh Gaza terus terjadi. Setidaknya 463 warga Palestina tewas. Bahkan, setelah utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengumumkan fase kedua rencana perdamaian Gaza dari Presiden Donald Trump, lebih dari 14 orang tewas di wilayah pesisir itu, menurut badan pertahanan sipil Gaza.

Di tengah puing-puing bangunan yang hancur dan kamp-kamp darurat yang rusak akibat hujan, kepahitan melingkupi hati warga Palestina. Meskipun intensitas serangan Israel menurun, pengeboman harian tetap berlangsung. Seorang fotografer AFP pada hari Jumat lalu mendokumentasikan anggota keluarga Houli berjalan di tengah reruntuhan, setelah lima anggota keluarga mereka meninggal akibat serangan udara di rumah mereka di Deir el-Balah, Gaza tengah.

Kondisi hidup sehari-hari tetap sangat sulit. PBB melaporkan bahwa lebih dari 80 persen infrastruktur Gaza hancur. Jaringan air dan listrik lumpuh, sistem pengelolaan limbah amburadul. Rumah sakit hanya berfungsi minimal, kalaupun beroperasi. Kegiatan pendidikan pun hanya inisiatif sesekali.

Menurut UNICEF, setiap anak di Gaza membutuhkan dukungan psikologis setelah lebih dari dua tahun perang genosida. "Kami merindukan kehidupan nyata," tutur Nivine Ahmad, 47 tahun, yang kini tinggal di kamp pengungsian di daerah al-Mawasi, Gaza selatan. Ia sangat berharap bisa kembali ke rumahnya di Gaza City. "Saya membayangkan hidup bersama keluarga di unit pracetak, dengan listrik dan air, bukan di rumah kami yang hancur karena bom," katanya. "Baru setelah itu saya akan merasa perang telah usai." Ia pun mendesak dunia untuk mencoba merasakan penderitaan warga Palestina. "Kami hanya punya harapan dan kesabaran," imbuhnya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook