Iran resmi memberikan pengecualian bagi kapal-kapal dari empat negaraāIndia, China, Irak, dan Qatarāuntuk melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Wakil Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, kepada kantor berita ISNA.
Menurut Moqaddam, kapal dari keempat negara tersebut tidak akan dihadang oleh Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Iran mendapatkan keuntungan politis dan ekonomi: dukungan diplomatik dari China dan Qatar, pasokan obat-obatan dari India, serta pungutan biaya transit bagi kapal India dan China. Sementara itu, kapal Qatar dibebaskan dari biaya.
Langkah ini menuai sorotan analis. Rouzbeh Parsi dari Universitas Lund menilai kebijakan tersebut sebagai upaya melubangi embargo di tengah sanksi panjang yang membelit Iran. Senada, Nader Hashemi dari Universitas Georgetown menyebut Iran kemungkinan memungut biaya transit atau persentase nilai kargo agar kapal-kapal tersebut aman melintas.
Analis keamanan Wolfgang Pusztai menambahkan, langkah ini berpotensi mendatangkan pendapatan signifikan bagi Tehran, mengingat China merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iranāmencakup hampir 90 persen ekspor minyak Iran. Dengan melibatkan Qatar dan India, Iran juga dinilai sedang berupaya menggoyang penerimaan terhadap strategi Washington di kawasan.
Data analis Kpler mencatat, dari 10,23 juta barel minyak mentah Teluk yang melewati Selat Hormuz pada Oktober, sekitar 42 persen dikirim ke China dan 13 persen ke India. Keempat negara tersebut memang sangat bergantung pada jalur strategis ini. Namun, pertanyaan besar masih tersisa: apakah kebijakan ini benar-benar berjalan efektif di tengah blokade yang masih berlaku?