Debat televisi jelang putaran kedua Pilpres Brasil berlangsung sengit. Calon petahana dari kubu kiri, Luiz Inácio Lula da Silva, berhadapan langsung dengan penantangnya dari kubu kanan, Senator Flávio Bolsonaro. Acara yang digelar sepekan sebelum hari pencoblosan ini sejatinya menjadi ajang adu gagasan untuk merebut suara pemilih yang belum menentukan pilihan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Debat dipenuhi serangan personal dan saling sindir, membuat para analis khawatir tingkat golput akan meningkat.
Dalam debat tersebut, Lula menantang Bolsonaro untuk membuka rekam jejak keuangan dan teleponnya kepada publik. Ia juga menyinggung isu keterkaitan sang senator dengan kelompok milisi bersenjata. Sementara itu, Bolsonaro terlihat lebih tenang dan berusaha memancing emosi lawannya. Mengingat hasil putaran pertama lalu, di mana Bolsonaro unggul tipis 47% berbanding 45,2% dari Lula, pertarungan ini diprediksi akan sangat ketat hingga akhir.
Dampaknya bagi masyarakat, debat yang chaos ini dinilai gagal memberikan edukasi politik yang sehat. Alih-alih membahas solusi ekonomi atau sosial, publik disuguhi tontonan konflik personal. Kondisi ini bisa memicu apatisme politik, di mana masyarakat merasa lelah dan enggan datang ke TPS karena merasa tidak ada visi misi yang jelas dari kedua kandidat.