STOCKHOLM – Partai Demokrat Swedia (SD), yang dulu dijauhi semua partai besar karena akar neo-Nazi-nya, kini berhasil menyusup ke pusat kekuasaan. Dalam satu dekade, partai yang lahir dari gerakan skinhead ini berubah dari 'paria politik' menjadi partai terbesar kedua di Swedia, bahkan menjadi penopang utama pemerintahan saat ini.
Transformasi SD dimulai setelah Pemilu 2018 yang menghasilkan kebuntuan politik. Partai-partai kanan akhirnya merangkul SD demi mengamankan kekuasaan. Padahal, partai ini didirikan oleh simpatisan Nazi pada 1980-an, dengan auditor pertamanya adalah veteran pasukan bersenjata SS Jerman.
Untuk membersihkan citra, SD melakukan 'operasi plastik' politik besar-besaran. Mereka mengusir sayap pemuda yang ekstrem, berhenti membagikan konten media sayap kanan, mengubah logo dari simbol Viking menjadi bunga yang tidak bersalah, dan meninggalkan tuntutan untuk keluar dari Uni Eropa serta menentang NATO.
Krisis pengungsi 2015 menjadi momentum emas bagi SD. Ketika 163.000 pencari suaka membanjiri Swedia—jumlah per kapita tertinggi di Uni Eropa—SD memanfaatkan sentimen publik dengan mengaitkan imigrasi dengan kejahatan dan terorisme. Hasil survei SOM tahunan menunjukkan, imigrasi tiba-tiba menjadi isu paling penting bagi warga Swedia.
Dampak bagi Masyarakat: Keberhasilan SD menandai pergeseran lanskap politik Eropa. Normalisasi partai ekstrem kanan ini memicu kekhawatiran tentang masa depan kebijakan multikulturalisme dan hak asasi manusia di Swedia. Para pengamat menilai, strategi 'cuci muka' ala SD ini bisa menjadi cetak biru bagi partai serupa di negara lain, termasuk di Asia dan Indonesia, untuk mendapatkan legitimasi.