Konflik bersenjata di Sudan kembali memakan korban jiwa yang sangat besar. Serangan udara menggunakan drone dilaporkan menghantam sejumlah wilayah, termasuk pasar dan rombongan pelayat, dengan total korban tewas dilaporkan melampaui 200 orang dalam dua hari terakhir.
Insiden paling mematikan terjadi di Abyei, wilayah perbatasan yang disengketakan antara Sudan dan Sudan Selatan. Pada Senin, serangan drone menghantam sebuah pasar dan menewaskan 73 orang. Menteri Informasi wilayah tersebut menyebutkan bahwa militer Sudan berada di balik serangan ini dengan dalih pasar tersebut merupakan lokasi pasokan bahan bakar untuk pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Sementara itu, di Negara Bagian Kordofan Barat, gelombang serangan drone pada Minggu malam menargetkan sebuah truk yang mengangkut sekitar 200 pelayat dan sebuah tenda perkabungan di Kota Al-Dabab. Menurut laporan Sudan War Observatory, insiden ini menewaskan 150 orang dan melukai 150 lainnya. Serangan serupa juga menggempur pasar di Kota Al-Mujlad pada waktu yang hampir bersamaan.
Eskalasi ini langsung memicu ketegangan diplomatik. Sudan Selatan telah memanggil Duta Besar Sudan untuk menyampaikan protes resmi, kekhawatiran bahwa konflik akan meluas melintasi perbatasan. Abyei sendiri merupakan wilayah kaya minyak yang dikelola bersama, namun status kepemilikannya masih belum tuntas sejak Sudan Selatan merdeka pada 2011 silam.
Penggunaan drone bersenjata semakin masif dalam perang saudara ini. Meskipun ada embargo senjata parsial, pasokan drone dari luar negeri terus mengalir ke kedua belah pihak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan yang menargetkan warga sipil dan merusak fasilitas layanan publik ini, terlebih di tengah krisis kelaparan akut yang mengancam 20 juta jiwa di wilayah Darfur dan Kordofan.