Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran, melalui pejabat keamanan seniornya Mohsen Rezaei, mengeluarkan peringatan keras bahwa kabel bawah laut, pusat data (data center), dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) di kawasan tersebut bisa menjadi target serangan jika konflik dengan Amerika Serikat kembali meletus.
Peringatan ini muncul bersamaan dengan situasi di Yaman, di mana kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah menguasai wilayah pesisir Laut Merah. Penguasaan ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keamanan infrastruktur internet global. Pasalnya, Selat Bab al-Mandebāyang kini menjadi titik panas konflikāadalah jalur vital yang dilalui oleh lebih dari 90 persen kapasitas data antara Eropa dan Asia.
Menurut laporan lembaga riset TeleGeography, jalur sempit selebar 26 km ini merupakan chokepoint atau titik leher botol bagi lalu lintas internet dunia. Jika kabel di wilayah ini terputus, dampaknya tidak main-main: layanan bank, aplikasi cloud, hingga komunikasi antarnegara bisa lumpuh total. Andreas Krieg, pakar keamanan dari King's College London, menegaskan bahwa pusat data sangat rentan karena bergantung pada pasokan listrik dan pendingin yang stabil. Menyerang fasilitas ini tidak harus menghancurkan servernya, cukup memutus listriknya maka seluruh layanan bisa mati.
Ancaman ini bukan sekadar wacana. Sejak perang dimulai Februari lalu, Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah merilis daftar target yang mencakup infrastruktur cloud milik raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, dan Oracle di Israel serta beberapa negara Teluk. Nama-nama perusahaan AS seperti Meta dan Apple juga sempat disebut sebagai target potensial. Meski serangan besar-besaran belum terjadi, insiden terhadap kapal di Selat Hormuz terus berlanjut, menandakan bahwa risiko gangguan terhadap ekonomi digital global masih sangat nyata.