Britania Raya mengejutkan dunia dengan mengerahkan tiga dari empat kapal selam nuklir kelas Vanguard mereka ke laut secara bersamaan. Ini adalah momen langka yang terakhir terjadi lebih dari lima tahun lalu. Ketiga kapal tersebut adalah HMS Vanguard, HMS Vigilant, dan HMS Vengeance, sementara HMS Victorious sedang dalam perawatan. Menurut laporan The Times, setidaknya satu dari kapal selam itu membawa misil balistik dengan hulu ledak nuklir.
Sumber Angkatan Laut menyebut pengerahan ini sebagai hal yang 'tidak biasa', tanpa menjelaskan lebih lanjut. Selama ini, Britania memang selalu menjaga setidaknya satu kapal selam nuklir di laut sebagai jaminan keamanan. Namun, pengerahan tiga kapal sekaligus memicu spekulasi apakah postur pertahanan negara itu telah berubah. Apalagi, Menteri Pertahanan Wes Streeting baru-baru ini memperingatkan bahwa Britania harus siap menghadapi perang dalam waktu dekat.
Media independen Navy Lookout menilai, satu kapal selam kemungkinan sedang bersiap menggantikan kapal patroli, sementara satu lainnya mungkin sedang menjalani uji coba laut. Tahun lalu, HMS Vanguard sempat berpatroli selama 200 hari, hampir menyamai rekor 207 hari yang dipegang HMS Victorious pada 2021. Kementerian Pertahanan Britania menegaskan bahwa deterren nuklir adalah 'landasan keamanan nasional' dan satu-satunya di Eropa yang dikomitmenkan untuk pertahanan NATO.
Langkah ini juga bertepatan dengan latihan bersama jet tempur Britania dan Prancis yang mensimulasikan serangan nuklir. Menteri Pertahanan Prancis menyebut kerja sama nuklir kedua negara semakin dalam. Streeting menegaskan, di dunia yang semakin berbahaya, musuh tidak boleh ragu terhadap komitmen Britania dan Prancis dalam menjaga keamanan Eropa. Analisis singkat: Pengerahan ini bisa dibaca sebagai pesan tegas kepada Rusia dan negara lain bahwa Britania serius meningkatkan kesiapan militernya, meski dampaknya bagi masyarakat sipil lebih pada psikologis ketegangan global dan potensi perlombaan senjata.