Pemerintah Suriah kini telah mengukuhkan kembali kendalinya atas wilayah timur laut yang strategis. Senin lalu, iring-iringan besar pasukan Tentara Suriah memasuki kota Hasakah, area yang sebelumnya menjadi benteng pertahanan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi. Langkah ini menjadi implementasi awal dari kesepakatan gencatan senjata komprehensif yang didukung Amerika Serikat.
Masuknya pasukan pemerintah Suriah ke Hasakah menyusul pengumuman jam malam oleh SDF di kota tersebut. Konvoi militer terlihat bergerak bebas, dan laporan jurnalis di lapangan mengonfirmasi bahwa pos-pos pemeriksaan yang sebelumnya dijaga oleh SDF kini telah diambil alih oleh tentara Suriah, menandakan kontrol penuh atas wilayah vital ini. Pergerakan pasukan serupa juga diperkirakan akan terjadi di kota-kota lain yang vital seperti Kobane dan Qamishli.
Kesepakatan bersejarah antara SDF dan pemerintah Suriah ini dicapai pada Jumat pekan lalu. Intinya adalah integrasi unit-unit SDF ke dalam Tentara Suriah, termasuk pembentukan divisi militer baru yang akan menaungi tiga brigade SDF dan satu brigade khusus untuk kota Kobane. Selain itu, lembaga pemerintahan di wilayah yang sebelumnya dikuasai SDF juga akan dilebur ke dalam struktur negara.
Perkembangan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik Suriah yang telah berlangsung lama. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadikan SDF sebagai sekutu utama dalam memerangi ISIS, menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai tonggak sejarah menuju persatuan dan rekonsiliasi. Namun, pergeseran prioritas AS di kawasan ini juga memunculkan pertanyaan mendalam tentang masa depan otonomi wilayah Kurdi dan implikasi jangka panjang bagi stabilitas regional. Upaya konsolidasi kekuatan oleh pemerintah Suriah ini diharapkan dapat membawa babak baru bagi negara yang dilanda perang, meski tantangan pembangunan kembali masih sangat besar.