Perdana Menteri Kanada Mark Carney sedang gencar melakukan manuver diplomatik dan ekonomi untuk mengamankan posisi negaranya di tengah ketidakpastian global. Ia baru saja mengumumkan gebrakan besar dengan mengamankan 12 perjanjian ekonomi dan keamanan baru dalam enam bulan terakhir. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan komitmen Ottawa untuk memperluas jangkauan perdagangannya, mengurangi ketergantungan pada satu mitra raksasa seperti Amerika Serikat.
Salah satu langkah paling menonjol adalah kesepakatan baru dengan Tiongkok yang bertujuan menurunkan bea masuk. Carney mengklaim perjanjian ini akan membuka pasar ekspor lebih dari 7 miliar dolar AS bagi sektor pertanian Kanada. Namun, langkah ini langsung menuai reaksi keras dari Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif 100 persen pada Kanada. Trump menuduh Kanada akan menjadi 'pelabuhan transit' bagi barang-barang Tiongkok. Menanggapi itu, Carney menegaskan bahwa Kanada tidak mencari perjanjian perdagangan bebas dengan Tiongkok, melainkan hanya kesepakatan spesifik yang menguntungkan petaninya.
Di tengah ketegangan ini, Carney juga tidak lupa membahas tinjauan ulang perjanjian perdagangan bebas regional (NAFTA) dengan AS dan Meksiko yang akan berakhir Juli ini. Friksi antara Ottawa dan Washington memang bukan hal baru. Sebelumnya, pemerintahan Trump sempat melontarkan ide untuk menjadikan Kanada 'negara bagian ke-51' AS, sebuah pernyataan yang tentu saja dianggap meremehkan kedaulatan Kanada.
Pidato Carney di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, delapan hari sebelumnya, menjadi landasan strategi ini. Di sana, ia menyentil bahwa tatanan internasional yang 'berbasis aturan' hanyalah ilusi yang kini memudar, digantikan oleh 'era persaingan kekuatan besar' di mana yang kuat berkuasa. Ia terang-terangan menyerukan 'kekuatan menengah' dunia untuk bersatu menghadapi zaman yang tidak dapat diprediksi ini. Pidatonya kala itu banyak diartikan sebagai kritik pedas terhadap kebijakan tarif agresif Trump yang memicu perang dagang global, termasuk kepada Kanada.
Dampak dan Analisis:
Langkah diversifikasi dan penggalangan 'kekuatan menengah' oleh Kanada ini bukan sekadar manuver ekonomi, melainkan sinyal geopolitik penting. Bagi Kanada, ini adalah upaya mengurangi risiko ketergantungan pada satu mitra dagang raksasa seperti AS, sekaligus mencari pasar baru yang lebih stabil. Dengan mengincar India, ASEAN, dan Mercosur, Kanada mencoba membangun jaringan ekonomi yang lebih resilient.
Bagi hubungan AS-Kanada, manuver ini bisa memperburuk ketegangan jangka pendek, terutama mengingat retorika proteksionis dari AS. Namun, dalam jangka panjang, ini bisa memaksa AS untuk lebih menghargai kedaulatan dan kepentingan ekonomi Kanada. Secara lebih luas, seruan Carney kepada 'kekuatan menengah' mencerminkan pergeseran tatanan dunia. Jika semakin banyak negara menengah mengikuti jejak Kanada untuk membangun aliansi baru dan mengurangi dominasi kekuatan besar, kita mungkin akan menyaksikan fragmentasi ekonomi global yang lebih kompleks, namun juga potensi terciptanya keseimbangan kekuatan baru yang lebih merata. Ini bisa menjadi era di mana negara-negara tidak lagi hanya mengikuti arus, tetapi secara aktif membentuk masa depan perdagangan dan diplomasi mereka sendiri.