Jakarta – Tepat 100 hari sudah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berlangsung sejak 28 Februari lalu. Meski gencatan senjata sempat disepakati pada 8 April, kenyataan di lapangan masih jauh dari kata damai. Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, masih lumpuh total dan tembakan sporadis terus terjadi.
Menurut data Al Jazeera, lebih dari 7.000 jiwa telah melayang. Korban terbanyak justru di Lebanon, bukan Iran yang menjadi sasaran awal perang. Sebanyak 3.593 orang tewas di Lebanon, disusul 3.468 di Iran, 29 warga Teluk, 26 warga Israel, dan 13 tentara AS. Angka ini bisa bertambah seiring situasi yang masih memanas.
Israel disebut menerapkan 'bumi hangus' di Lebanon selatan. Lebih dari satu juta warga Lebanon terusir dari rumah mereka. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam invasi ini sebagai bentuk hukuman kolektif yang menghancurkan desa-desa dan memaksa penduduknya mengungsi. Pasukan Israel bahkan sudah mencapai pinggiran Nabatieh dan menguasai Kastil Beaufort, titik terdalam yang mereka capai dalam 25 tahun terakhir. Kini, hampir seperlima wilayah Lebanon atau sekitar 2.000 kilometer persegi diduduki Israel.
Di Iran, lebih dari tiga juta orang terpaksa mengungsi dalam dua pekan pertama perang akibat serangan yang menghancurkan infrastruktur dan permukiman warga.
Dampak paling dahsyat terasa di sektor energi global. Dengan Selat Hormuz yang nyaris tertutup, hanya sekitar 7 kapal per hari yang melintas, bandingkan dengan 100 kapal di masa normal. Harga minyak pun meroket hingga hampir dua kali lipat. Blokade laut yang diterapkan AS sejak April semakin memperparah situasi, membuat rantai pasok global kacau dan biaya pengiriman melonjak.
Analis menilai perang ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pukulan telak bagi stabilitas ekonomi dunia. Ketergantungan global pada minyak Timur Tengah membuat krisis ini berpotensi memicu resesi jika tak segera diakhiri.