Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran dilaporkan diserang pada Sabtu pagi waktu setempat. Organisasi Energi Atom Iran langsung menuding Amerika Serikat dan "rezim Zionis perampas" (Israel) sebagai dalang di balik "serangan kriminal" ini.
Lokasi yang jadi target adalah Kompleks Pengayaan Shahid Ahmadi Roshan di Natanz, Iran tengah, yang terletak sekitar 220 km tenggara Teheran. Situs ini merupakan salah satu fasilitas pengayaan uranium paling vital bagi Iran. Ini bukan kali pertama Natanz menjadi sasaran. Sebelumnya, situs ini juga sempat diserang di awal perang 22 hari yang dimulai sejak 28 Februari lalu. Yang menarik, laporan media juga menyebut fasilitas nuklir Natanz pernah ditargetkan Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025. Penyebutan tanggal di masa depan ini bisa diinterpretasikan sebagai informasi intelijen terkait potensi eskalasi atau rencana serangan lanjutan, menggambarkan betapa krusialnya fasilitas ini dalam dinamika konflik regional yang terus bergejolak antara kedua belah pihak.
Berita pentingnya, pihak berwenang Iran menegaskan tidak ada kebocoran material radioaktif yang dilaporkan di Natanz pasca serangan terbaru ini. Warga yang tinggal di sekitar fasilitas dipastikan aman dari bahaya radiasi. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga telah mengonfirmasi bahwa Iran telah memberitahukan insiden ini, dan belum ada peningkatan level radiasi di luar lokasi yang terdeteksi. Kepala IAEA, Rafael Grossi, kembali menyerukan agar semua pihak menahan diri secara militer untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir di tengah perang.
Serangan ini selaras dengan tujuan utama Amerika Serikat dan Israel, seperti yang kerap disampaikan Gedung Putih, yakni mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz justru mengancam akan meningkatkan intensitas serangan gabungan IDF dan militer AS terhadap "rezim teroris Iran dan infrastruktur pendukungnya" mulai Minggu ini. Pernyataan ini jelas memberi sinyal bahwa eskalasi konflik di kawasan ini belum akan mereda, bahkan berpotensi makin memburuk. Masyarakat dunia tentu berharap ketegangan ini bisa mereda, namun dengan retorika yang kian tajam dari kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian tampak masih panjang.