Siapa sangka, kartun Jepang yang dulu sering diidentikkan dengan 'anak rumahan' atau 'nerd' kini berubah jadi fenomena global bernilai miliaran dolar? Ya, anime dan dunia cosplay-nya tidak hanya merambah berbagai platform hiburan, tapi juga menjadi wadah ekspresi budaya yang inklusif, terutama bagi komunitas kulit hitam yang sempat merasa terpinggirkan.
Perkembangan pesat ini tak main-main. Industri anime kini diperkirakan meraup lebih dari 19 miliar dolar AS setiap tahun. Seiring dengan popularitasnya yang meroket sejak serial macam Pokémon dan Dragon Ball Z mempopulerkan gaya animasi Jepang ini di akhir 1990-an, kita juga menyaksikan hadirnya karakter kulit hitam yang lebih otentik, jauh dari stereotip era sebelumnya.
Salah satu figur yang menyoroti fenomena ini adalah Cheyenne Ewulu. Ia adalah pembawa acara serial YouTube Anime Club di Amazon Prime, dan pada 2015 lalu menyutradarai 'Shades of Cosplay', sebuah dokumenter yang membahas isu rasisme anti-kulit hitam dalam komunitas cosplay.
Bagi Ewulu, kecintaannya pada anime berawal dari masa kanak-kanak. "Dragon Ball Z lah yang benar-benar memantapkan saya di fandom anime," ceritanya. Sebagai anak '90-an, ia tumbuh besar dengan berbagai tayangan anime shonen yang kala itu tayang di Kids’ WB, FoxBox, dan 4Kids. "Anime benar-benar disajikan masif kepada kami saat itu," kenangnya.
Ewulu melihat langsung bagaimana anime bertransformasi. Dari yang awalnya jadi alasan orang diejek, kini justru menjadi sesuatu yang keren dan membanggakan. Ia merasa sudah waktunya. "Ketika Pokémon muncul di awal 2000-an, itu benar-benar membuka pintu bagi serial baru untuk mendunia," ujarnya. Penggemar yang dulu merasa harus menyembunyikan minat mereka, kini bisa terang-terangan dan bangga. "Kalau sekarang masih ada yang meledek, kita bisa bilang, 'Aku tidak peduli, karena aku dan Megan Thee Stallion punya selera yang sama. Jadi kamu yang rugi, maaf ya!'" candanya, merujuk pada rapper terkenal yang juga menyukai anime.
Peran media sosial sangat vital dalam membangun komunitas ini. Ewulu mengakui bahwa di luar sekolah, ia menemukan banyak teman kulit hitam yang juga menyukai anime lewat Twitter atau Instagram. "Sering saya dengar orang bilang, 'Saat kami ke klub anime lokal, penggemar anime kulit hitam tidak ada.' Tapi begitu Anda masuk dunia maya, ada seluruh komunitas kami," tegasnya. Lewat cosplay, membuat konten lucu, atau akun Twitter bertema anime, komunitas ini ada di mana-mana dan tidak bisa dilewatkan.
Inspirasi di balik 'Shades of Cosplay' muncul saat Ewulu masih aktif sebagai cosplayer di bangku kuliah. Ia sangat total, menjahit kostumnya sendiri dan menghabiskan banyak uang. Namun, ia menyadari pada 2015, banyak serial dokumenter tentang cosplay di YouTube yang tidak menampilkan cosplayer kulit hitam sama sekali. "Saya juga menghadapi diskriminasi dalam komunitas cosplay, baik online maupun secara langsung," ungkapnya. Baginya, terasa aneh ada orang yang berani melontarkan komentar rasis secara langsung. "Saat itu, saya merasa tidak ada yang benar-benar mendukung kaum 'nerd' kulit hitam," tambahnya.
Apa yang menarik dari cosplay? Bagi Ewulu, ia merasa bisa mewujudkan karakter favoritnya. Ia senang bercosplay sebagai Korra dari 'The Legend of Korra', bahkan membuat tiga atau empat versi kostumnya. "Setiap kali saya mengenakan kostum itu, rasanya sangat keren bisa merepresentasikan gadis berkulit cokelat lainnya," pungkasnya, menunjukkan betapa pentingnya representasi dalam seni.