Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu reaksi keras di Israel. Gelombang protes dan kecaman dari kalangan politisi serta masyarakat Israel semakin meningkat setelah kapal-kapal perang Iran dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan. Ini terjadi setelah AS mencabut blokade angkatan laut yang sebelumnya diberlakukan di kawasan tersebut.
Peristiwa ini langsung menjadi topik utama dalam KTT G7 yang baru saja berlangsung. Para pemimpin negara-negara industri besar menyambut baik terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran, meskipun ada kekhawatiran soal dampaknya terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Menurut analis keamanan internasional, langkah AS mencabut blokade dan membiarkan kapal Iran leluasa melintas di jalur strategis minyak dunia ini bisa mengubah peta geopolitik kawasan. Di satu sisi, ini meredakan ketegangan langsung antara dua negara. Namun di sisi lain, Israel yang selama ini vokal menentang kesepakatan merasa posisinya terancam, terutama jika Iran mendapatkan ruang gerak lebih besar di perairan internasional.
Data dari lembaga pelacak maritim menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal setelah blokade dicabut. Ini menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi terhadap Iran mulai berkurang. Namun, kekhawatiran Israel tidak bisa dianggap remeh. Bagi Tel Aviv, setiap penguatan posisi Iran di kawasan adalah ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka.
Dengan dinamika ini, kita perlu mencermati apakah AS akan memberikan jaminan keamanan tambahan kepada Israel atau justru memilih jalan tengah untuk menjaga stabilitas. Yang jelas, Selat Hormuz kini menjadi panggung baru persaingan kekuatan di Timur Tengah.