Sudan saat ini tak hanya dihantam krisis kemanusiaan parah akibat perang yang tak kunjung usai, namun juga menghadapi ancaman serius terhadap masa depan generasinya. Data terbaru mengungkap, penutupan sekolah di negara itu kini telah melampaui rekor terburuk yang terjadi selama pandemi COVID-19. Jutaan anak-anak terancam kehilangan pendidikan, sementara para ibu terpaksa banting tulang dalam pekerjaan berat demi menyambung hidup.
Krisis kemanusiaan di Sudan makin memburuk. Konflik bersenjata antara tentara Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang sudah berjalan hampir tiga tahun telah memporakporandakan negara itu dan mengancam masa depan jutaan warganya.
Situasi ini memaksa banyak perempuan, khususnya para ibu pengungsi, untuk mengambil pekerjaan kasar demi menghidupi keluarga mereka. Ambil contoh Rasha, seorang ibu pengungsi di kamp Ad-Damazin, Negara Bagian Blue Nile. Demi memberi makan anak-anaknya, ia terpaksa menjadi penebang kayu, pekerjaan yang dulunya identik dengan laki-laki. "Pekerjaan ini berat, tapi kapak sudah seperti perpanjangan tangan saya," ujarnya kepada Al Jazeera Arabic. Penghasilan hariannya, setelah bekerja keras di bawah terik matahari, seringkali hanya cukup untuk membeli sebungkus biskuit dan sabun.
Tragisnya, kisah Rasha bukan satu-satunya. Ribuan perempuan Sudan kini menjadi tulang punggung keluarga mereka, bekerja dalam kondisi yang sangat berat dan minim harapan akan kebutuhan dasar seperti pakaian.
Data PBB menunjukkan, lebih dari 30 juta orang dari total 46,8 juta penduduk Sudan membutuhkan bantuan kemanusiaan. Mereka menghadapi kelangkaan pangan akut dan krisis gizi, terutama di wilayah Darfur dan Kordofan. Ditambah lagi, wabah penyakit terus memperparah situasi.
Sudan kini juga menjadi pusat krisis pengungsian terbesar di dunia, dengan sekitar 13,6 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran.
Yang paling mengkhawatirkan, perang ini merenggut masa depan generasi muda. Laporan terbaru dari Save the Children mengungkap bahwa Sudan kini mengalami salah satu penutupan sekolah terpanjang di dunia, bahkan melampaui rekor terburuk saat pandemi COVID-19. Analisis ini, yang dirilis menjelang Hari Pendidikan Internasional, menunjukkan sistem pendidikan di Sudan berada di ambang kehancuran, terutama di zona konflik.
Di Negara Bagian Darfur Utara, hanya 3 persen dari lebih dari 1.100 sekolah yang masih beroperasi. Situasi serupa juga terjadi di Darfur Selatan (13 persen beroperasi) dan Kordofan Barat (15 persen). "Pendidikan bukan kemewahan. Ini adalah jalur kehidupan," kata Inger Ashing, CEO Save the Children, setelah mengunjungi Sudan. Ia memperingatkan, jika investasi pendidikan gagal dilakukan hari ini, seluruh generasi terancam masa depan yang hanya diwarnai konflik, bukan kesempatan.
Krisis diperparah dengan fakta bahwa banyak guru belum digaji selama berbulan-bulan, memaksa mereka meninggalkan pekerjaan. Tak terhitung pula sekolah yang dibom atau diubah menjadi tempat pengungsian. Kelangkaan pasokan makanan juga terus memburuk, seiring mengeringnya dana bantuan.