Kabar mengejutkan datang dari Eropa. Lima negara di Benua Biru itu secara blak-blakan menuduh Rusia menjadi dalang di balik kematian pemimpin oposisi paling vokal, Alexey Navalny, di penjara Siberia awal tahun 2024 lalu. Menurut klaim mereka, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa Navalny meninggal dunia karena diracun menggunakan racun katak panah langka yang sangat mematikan.
Tudingan serius ini tentu saja langsung membuat Kremlin berang. Moskow dengan tegas menolak semua tuduhan, menyebutnya sebagai 'disinformasi Barat' yang bertujuan mendiskreditkan Rusia. Mereka bersikeras bahwa Navalny meninggal karena sebab alami, bukan akibat intervensi pihak lain.
Kematian Navalny, yang saat itu tengah menjalani hukuman 19 tahun penjara, memang selalu diselimuti misteri dan kecurigaan. Ia dikenal sebagai kritikus paling tajam terhadap Presiden Vladimir Putin dan pemerintahannya. Bukan kali ini saja Navalny diduga menjadi target percobaan peracunan; sebelumnya ia pernah selamat dari upaya pembunuhan dengan agen saraf Novichok pada tahun 2020, sebuah insiden yang juga memicu ketegangan diplomatik antara Rusia dan negara-negara Barat.
Klaim baru tentang racun katak panah ini semakin memanaskan hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Insiden ini menambah panjang daftar dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan pembungkaman oposisi di Rusia, serta berpotensi memicu sanksi atau respons diplomatik lebih lanjut dari komunitas internasional. Publik kini menunggu apakah ada bukti lebih lanjut yang akan dibagikan oleh negara-negara Eropa atau jika misteri kematian Navalny akan tetap menjadi bahan perdebatan tanpa akhir.