Kebakaran melanda sebuah kilang pengolahan bahan bakar vital di Ibu Kota Havana, Kuba, Jumat lalu. Insiden ini sontak memperparah krisis energi akut yang sudah lama melanda negara itu akibat sanksi dan pembatasan pasokan minyak oleh Amerika Serikat.
Asap tebal sempat membubung tinggi di atas Teluk Havana dari Kilang Nico Lopez, menarik perhatian warga. Namun, Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba segera mengumumkan bahwa api yang bermula di sebuah gudang tersebut berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa dan tidak menyebar ke area lain. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, dan operasional kilang disebut kembali normal.
Meskipun api cepat dipadamkan, kejadian ini kembali menyoroti kondisi darurat bahan bakar di Kuba. Negara kepulauan ini sangat bergantung pada impor minyak, khususnya dari Venezuela yang pasokannya terhenti setelah insiden penahanan pemimpinnya oleh pasukan AS bulan lalu. Situasi makin sulit setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan tarif dagang kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba, seiring dengan diperketatnya blokade.
Akibat kelangkaan bahan bakar, Kuba kini menghadapi pemadaman listrik massal yang meluas. Transportasi umum seperti bus dan kereta terpaksa dipangkas, beberapa hotel ditutup, kegiatan sekolah dan universitas dibatasi, bahkan pegawai sektor publik harus bekerja empat hari seminggu. Layanan di rumah sakit pun ikut terdampak.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahkan telah memperingatkan kemungkinan "keruntuhan" kemanusiaan di Kuba jika kebutuhan energinya tidak terpenuhi. Sebagai respons, dua kapal Angkatan Laut Meksiko yang membawa lebih dari 800 ton bantuan kemanusiaan tiba di Havana minggu lalu, menunjukkan betapa mendesaknya situasi ini.
Analis pelacakan transportasi maritim melaporkan bahwa tak ada kapal tanker minyak asing yang merapat ke Kuba selama berminggu-minggu, sementara Kuba sendiri hanya mampu memproduksi sepertiga dari kebutuhan total bahan bakarnya. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos de Cossio, secara tegas menuduh AS telah melakukan "hukuman massal" terhadap rakyat Kuba, yang disebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga menyuarakan kritiknya terhadap pembatasan minyak Washington, menyebutnya "tidak adil," dan menyerukan dialog untuk menyelesaikan kebuntuan antara Kuba dan AS.