Serangan udara Rusia kembali memakan korban jiwa di Ukraina. Sebuah bom glide menghantam dua bus penumpang di Kota Kramatorsk, Ukraina timur, pada Kamis pagi waktu setempat. Akibatnya, sedikitnya 30 orang tewas dan 18 lainnya luka-luka.
Kepala Administrasi Regional Vadym Filashkin menegaskan serangan ini bukan kecelakaan. Menurutnya, Rusia sengaja membidik warga sipil karena bus penuh penumpang dianggap target yang menguntungkanāsatu serangan bisa menewaskan banyak orang sekaligus. Bom glide sendiri adalah senjata yang diluncurkan dari pesawat di wilayah Rusia, lalu meluncur ke koordinat tetap di darat. Dalam kasus ini, sasarannya adalah jalanan kota yang berjarak sekitar 20 kilometer dari garis depan.
Dampaknya langsung terasa. Filashkin memerintahkan penghentian seluruh transportasi publik di Kramatorsk dan kota tetangga, Sloviansk. Langkah ini diambil karena Rusia makin gencar melumpuhkan infrastruktur transportasi Ukrainaāmulai dari kereta, minibus, SPBU, jembatan, pelabuhan laut, hingga kapal kargo.
Pengamat dari Penta think tank di Kyiv, Volodymyr Fesenko, menilai ini taktik baru Rusia. Sebelumnya mereka fokus memutus listrik dan pemanas. Kini, targetnya adalah melumpuhkan mobilitas dan menciptakan kekacauan transportasi. Tujuannya jelas: memaksa Ukraina berdamai dengan syarat Rusia, sekaligus mengganggu psikologis dan gaya hidup masyarakat.
Data PBB menunjukkan kekerasan terhadap warga sipil makin brutal. Sepanjang delapan bulan pertama 2026, 15.280 warga sipil tewas atau terlukaānaik 55 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sejak invasi besar-besaran 2022, langit Ukraina bebas dari pesawat komersial. Kereta, bus, dan truk pun jadi urat nadi bagi warga, bisnis, hingga pasokan militer dan kemanusiaan.
Kereta api menangani hampir dua pertiga volume barang Ukraina, termasuk ekspor baja, gandum, dan minyak nabati yang menopang ekonomi. Namun, sejak 2022, sedikitnya 521 lokomotif telah dihantam drone dan artileri. Tiga per lima di antaranya terjadi tahun ini saja. Beberapa lokomotif diserang saat sedang berjalan, dan drone kadang menghantam gerbong penumpang hingga menimbulkan kebakaran, kematian, dan luka-luka. Serangan terbesar menewaskan lima penumpang pada Januari lalu di wilayah timur laut.