Industri kreatif di Lagos, Nigeria, sedang menghadapi tantangan besar. Para sineas, jurnalis, dan kreator konten mengeluhkan maraknya aksi pemerasan yang dilakukan oleh preman jalanan atau yang dikenal sebagai agberos. Mereka tidak segan meminta uang dalam jumlah besar, bahkan melakukan kekerasan jika permintaan tidak dipenuhi.
Salah satu korban, Nurudeen Sanni, menceritakan pengalaman mencekam saat timnya diserang ketika sedang syuting dokumenter di Ajah. Para pelaku yang bersenjata tajam meminta uang sebesar 100.000 naira (sekitar Rp1,5 juta) dan melukai salah satu kru di bagian leher. Insiden serupa juga dialami oleh sutradara video musik ternama, TG Omori, yang syutingnya dibubarkan paksa hingga menyebabkan penjaga keamanannya terluka.
Analis risiko dari SBM Intelligence, Stanley Ikechukwu, menyebut situasi ini sebagai "perang terhadap kamera". Para pelaku tahu bahwa kru produksi tidak bisa meninggalkan lokasi begitu saja karena akan merugikan waktu dan biaya, sehingga mereka memanfaatkan situasi ini untuk memeras. Dampaknya, banyak peristiwa penting di komunitas tertentu menjadi tidak terliput oleh media karena jurnalis merasa tidak aman. Fenomena ini tidak hanya menghambat kreativitas tetapi juga mengancam kebebasan pers dan keselamatan pekerja media di jalanan.