Gubernur New York, Kathy Hochul, akhirnya buka suara terkait kasus dugaan pemerkosaan di Universitas Cornell yang sempat mandek. Ia menyebut korban yang dikenal sebagai Jane Doe telah 'dikecewakan' di setiap kesempatan oleh sistem yang seharusnya melindunginya.
Kasus ini mencuat kembali ke permukaan setelah Jane Doe mengajukan gugatan perdata bulan lalu. Insiden nahas tersebut diduga terjadi pada 2024 di sebuah rumah fraternitas, di mana korban mengaku dibius dan diperkosa oleh beberapa pria. Meski sempat diselidiki, pihak berwenang kala itu tidak menjatuhkan tuntutan pidana apa pun.
Merasa kecewa dengan kinerja jaksa lokal, Hochul mencabut kepercayaannya dan menunjuk Jaksa Agung New York, Letitia James, untuk mengambil alih penyelidikan. Hochul menyoroti kelalaian fatal penyidik sebelumnya yang bahkan tidak pernah mewawancarai korban secara langsung.
Lebih jauh, Hochul berjanji akan menutup celah hukum (loophole) yang selama ini menghalangi penuntutan dalam kasus pemerkosaan jika korban mengonsumsi alkohol atau obat-obatan secara sukarela. Menurutnya, kondisi mabuk bukanlah izin untuk melakukan kekerasan seksual. Sementara itu, Jaksa Wilayah Matthew Van Houten berdalih pihaknya tidak menerima bukti yang cukup dari pihak universitas untuk melanjutkan kasus ke ranah pidana.
Analisis Dampak: Kasus ini menjadi sorotan tajam mengenai penanganan kekerasan seksual di kampus-kampus elite Amerika. Penunjukan Jaksa Agung menunjukkan eskalasi serius, sekaligus menekan universitas untuk lebih transparan. Bagi masyarakat luas, langkah Hochul menutup celah hukum 'intoxication defense' bisa menjadi preseden penting dalam memperjuangkan keadilan bagi korban kekerasan seksual di masa depan.