Mahkamah Agung Brasil akhirnya menjatuhkan vonis berat kepada lima pria yang terlibat dalam konspirasi pembunuhan aktivis hak asasi manusia sekaligus politikus, Marielle Franco, dan sopirnya, Anderson Gomes, pada tahun 2018. Keputusan bulat para hakim ini menjadi puncak dari persidangan panjang yang menyoroti isu polarisasi, korupsi, dan ketimpangan ras di tengah masyarakat Brasil.
Dalam putusannya, pengadilan menghukum mantan anggota Kongres, Chiquinho Brazao, dan adiknya yang juga anggota dewan pengawas keuangan negara bagian Rio, Domingos Brazao, masing-masing dengan pidana 76 tahun penjara. Mereka terbukti merencanakan pembunuhan Franco karena aktivis berusia 38 tahun itu getol menentang perampasan lahan ilegal, bisnis kotor yang menguntungkan dua bersaudara politikus tersebut.
Marielle Franco, seorang wanita kulit hitam yang berasal dari favela (pemukiman padat penduduk berpenghasilan rendah di Brasil), dikenal luas atas perjuangannya membela hak-hak komunitas LGBTQ+, minoritas ras, dan perempuan. Sebagai anggota dewan kota Rio de Janeiro, ia juga vokal mengecam kekerasan polisi berlebihan di favela dan praktik ilegal pengambilalihan lahan oleh pihak berwenang. Pada 14 Maret 2018, setelah sebuah debat malam di Rio, mobil yang ditumpangi Franco dan Gomes diberondong 13 peluru dari kendaraan lain, menewaskan keduanya di tempat.
Selain Brazao bersaudara, tiga terdakwa lain juga menerima vonis berat. Robson Calixto Fonseca, asisten Brazao bersaudara, divonis sembilan tahun atas konspirasi kriminal. Sementara itu, dua oknum penegak hukum juga terbukti terlibat: mantan penyelidik polisi Rivaldo Barbosa dihukum 18 tahun karena korupsi pasif dan menghalang-halangi keadilan, serta petugas polisi Ronald Paulo Alves Pereira diganjar 56 tahun penjara atas dakwaan pembunuhan dan percobaan pembunuhan. Meski semua membantah, informasi dari dua eksekutor lapangan yang melakukan penembakan menjadi kunci terkuaknya konspirasi ini.
Kasus pembunuhan Marielle Franco telah menjadi simbol kelam kekerasan politik dan korupsi yang mengakar di Brasil. Vonis ini mengirimkan pesan kuat bahwa keadilan, meskipun seringkali berjalan lambat, pada akhirnya dapat ditegakkan, bahkan terhadap individu-individu yang sangat berkuasa. Ini juga menegaskan bahaya yang dihadapi para aktivis dan jurnalis yang berani menyuarakan kebenaran dan menantang kepentingan korup, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya melindungi mereka yang memperjuangkan hak-hak masyarakat rentan.