Teheran, Al Jazeera – Negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim bahwa hasil perundingan justru lebih banyak membuahkan hasil dibandingkan aksi militer. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih membara di Timur Tengah.
Ghalibaf menuding Israel sebagai pihak yang mencoba menggagalkan kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU) yang hampir rampung. Menurutnya, serangan terakhir Israel ke Beirut adalah upaya nekat untuk merusak proses diplomasi. Namun, langkah Israel itu justru memicu reaksi keras dari mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk turun tangan.
Analisis: Klaim Ghalibaf ini sengaja dilontarkan untuk menunjukkan superioritas diplomasi Iran di mata dunia. Namun, perlu dicermati bahwa pernyataan ini bisa jadi bagian dari perang narasi. Di sisi lain, keterlibatan Trump yang disebut-sebut 'turun tangan' mengindikasikan adanya tarik-ulur kepentingan besar di balik meja perundingan, di mana Israel merasa terancam jika kesepakatan itu benar-benar terwujud. Bagi masyarakat global, ini pertanda bahwa konflik tidak akan selesai hanya dengan bom, melainkan membutuhkan meja perundingan yang rumit dan penuh intrik.