Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa ia telah membahas rencana penggulingan rezim Iran dalam percakapannya dengan Presiden AS Donald Trump pada Minggu lalu. Menurut Netanyahu, menghancurkan pemerintahan Iran adalah kunci untuk mencegah negara itu membangun kembali program nuklirnya dan apa yang disebut sebagai 'Axis of Resistance' atau poros perlawanan.
Pernyataan ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, di mana Israel dan Iran terus saling berhadapan melalui proksi maupun ancaman langsung. Netanyahu menegaskan bahwa pendekatan terhadap Iran tidak cukup hanya dengan kesepakatan nuklir, tetapi harus menyentuh akar pemerintahan itu sendiri.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat global, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa konflik Israel-Iran berpotensi naik ke level yang lebih berbahaya. Jika AS di bawah Trump memberi lampu hijau pada wacana penggulingan rezim, stabilitas kawasan Teluk dan harga minyak dunia bisa terancam. Di sisi lain, bagi publik Indonesia, isu ini penting karena dapat memengaruhi harga energi dan posisi diplomasi Indonesia yang selama ini mendukung solusi dua negara dan menolak intervensi militer sepihak.
Informasi tambahan dari media lain menyebutkan bahwa Gedung Putih belum memberikan konfirmasi resmi terkait detail pembicaraan tersebut, sementara Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras pernyataan Netanyahu sebagai bentuk provokasi yang melanggar hukum internasional.