Perdana Menteri India Narendra Modi baru saja merampungkan kunjungan kontroversialnya selama dua hari ke Israel, menegaskan komitmen kedua negara untuk mempererat kerja sama strategis. Dalam pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem, Modi menyepakati lebih dari selusin perjanjian bilateral, utamanya di sektor teknologi pertahanan, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber. Pembicaraan mengenai perjanjian perdagangan bebas juga turut menjadi agenda utama, menandakan ekspansi signifikan dalam hubungan kedua negara.
Netanyahu sendiri optimis akan masa depan kerja sama ini, menyebut kedua negara sebagai 'peradaban kuno yang bangga akan masa lalu, namun bertekad merebut masa depan' melalui inovasi. Salah satu kesepakatan menarik adalah kolaborasi dalam 'horizon scanning', sebuah mekanisme untuk mengidentifikasi tren global yang muncul di bidang teknologi, ekonomi, dan masyarakat melalui pemanfaatan data.
Di sisi lain, kunjungan ini memicu gelombang kritik di India. Banyak pihak mempertanyakan waktu dan prioritas Modi yang memilih mempererat hubungan dengan Israel, di tengah perang genosida yang berlangsung di Gaza dan telah menewaskan lebih dari 72.000 jiwa. Kritik ini semakin menguat mengingat rekam jejak India yang secara historis mendukung negara Palestina, meskipun Modi sering kali abstain dalam kritik terhadap Israel di forum internasional seperti PBB.
Namun, perlu dicatat bahwa beberapa waktu lalu India juga termasuk negara yang mengecam langkah Israel memperdalam kendali atas Tepi Barat yang diduduki. Kedua pemimpin juga mengamini rencana Presiden AS Donald Trump untuk memajukan 'gencatan senjata' di Jalur Gaza, sebuah langkah yang memiliki berbagai interpretasi.
Dampak Penting:
Keputusan Israel untuk mengizinkan 50.000 warga negara India lainnya masuk ke negara itu juga menjadi sorotan. Sejak Israel memberlakukan pembatasan terhadap pekerja Palestina di awal perang Gaza, puluhan ribu warga Asia Selatan telah mengisi posisi di sektor konstruksi dan perawatan. Langkah ini menunjukkan bagaimana konflik di Gaza tidak hanya berdampak pada Palestina, tetapi juga menciptakan perubahan dinamis dalam pasar tenaga kerja regional dan strategi politik negara-negara lain. Penguatan aliansi India-Israel ini bisa jadi sinyal pergeseran geopolitik besar, di mana India mencari mitra strategis dan teknologi di luar blok tradisionalnya, meskipun harus menanggung risiko politik dan sentimen publik domestik terkait isu Palestina.