Teheran, Iran - Meski nilai tukar rial Iran menguat drastis hingga lebih dari 15 persen terhadap dolar AS dan indeks saham mencetak rekor usai kesepakatan awal dengan Amerika Serikat, warga Iran masih mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang tak kunjung turun. Lonjakan nilai mata uang ini terjadi setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Minggu lalu, yang memicu euforia di pasar keuangan.
Namun, di lapangan, situasinya berbeda. Di pusat pasar valuta asing Teheran, Jalan Ferdowsi, kurs dolar AS merosot dari 1,8 juta rial menjadi 1,54 juta rial per dolar. Para pedagang valas mencatat volume penjualan meningkat, tapi pembeli justru menahan diri karena mengantisipasi penguatan lebih lanjut. Sayangnya, kondisi ini belum berdampak pada harga sembako seperti susu, keju, minyak goreng, dan tepung.
“Mereka bilang dolar turun, tapi keranjang belanja saya harganya sama seperti minggu lalu. Artinya, kesepakatan ini belum sampai ke kantong kami,” ujar Reza (42), warga Teheran, kepada Al Jazeera. Pedagang bernama Ramin (55) menambahkan bahwa fluktuasi dolar pasar bebas tidak langsung memengaruhi harga barang pokok yang masih disubsidi pemerintah.
Ekonom Iran menilai, sanksi bertahun-tahun dan blokade laut yang dilakukan AS dan Israel sejak perang 28 Februari lalu telah menghancurkan rantai pasok. Akibatnya, meski nilai tukar membaik, biaya logistik dan impor barang tetap tinggi. Para analis memperingatkan bahwa tanpa pencabutan blokade dan stabilisasi rantai pasok, rakyat Iran mungkin tak akan merasakan dampak positif kesepakatan ini dalam waktu dekat.