Dunia sepak bola Italia kembali berduka. Tim nasional berjuluk "Azzurri" harus menelan pil pahit setelah dipastikan gagal melaju ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kekalahan menyakitkan dari Bosnia dan Herzegovina lewat adu penalti pada Selasa lalu, setelah bermain imbang 1-1, menjadi pemicu kemarahan publik dan desakan untuk perubahan.
Kegagalan ini membuat negara pencinta sepak bola itu terperosok dalam mimpi buruk yang berkepanjangan. Media-media besar Italia, seperti Corriere della Sera, bahkan menyebutnya sebagai "Kutukan Piala Dunia" dan menyerukan pembangunan ulang total. "Kita semua tinggal di rumah," begitu kira-kira bunyi headline surat kabar olahraga La Gazzetta dello Sport dan Corriere dello Sport, menggambarkan lagi musim panas tanpa turnamen akbar itu.
Insiden kartu merah untuk Alessandro Bastoni pada menit ke-42 saat Italia sedang unggul menjadi titik balik krusial dalam pertandingan. Banyak pihak menilai, tim memang tampil buruk, dengan para pemain yang terlihat tidak dalam performa terbaik. Davide Caldaretta, seorang penggemar yang menyaksikan laga di Roma, mengaku sangat syok. "Semuanya berjalan buruk sejak awal pertandingan. Tim tidak bagus, pemain yang tidak dalam kondisi terbaik tetap bermain… tidak masuk akal," ujarnya.
Kemarahan publik ini langsung berimbas ke tataran tertinggi federasi. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, dengan tegas meminta Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, untuk segera mundur. "Jelas, sepak bola Italia perlu dibangun kembali dari nol, dan itu dimulai dengan perubahan di pucuk pimpinan FIGC," kata Abodi dalam pernyataannya.
Namun, Gravina menolak mundur. Ia berdalih bahwa kegagalan ini juga disebabkan oleh kurangnya dukungan dari negara terhadap sepak bola. Dalam pernyataannya, Gravina bahkan sempat menyindir cabang olahraga lain sebagai "amatir" atau "olahraga negara" karena banyaknya atlet, khususnya Olimpian, yang bernaung di bawah angkatan bersenjata atau kepolisian Italia. Padahal, Italia justru mencetak rekor 30 medali di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina dan 40 medali di Olimpiade Musim Panas Paris 2024 dari berbagai cabang.
Polemik antara Menteri Abodi dan Gravina ini mengindikasikan adanya ketegangan serius di internal sepak bola Italia. Keputusan akhir mengenai nasib Gravina kini akan ditentukan dalam rapat dewan FIGC yang akan datang. Sementara itu, Bosnia dan Herzegovina, tim yang menyingkirkan Italia, akan bertanding di Grup B Piala Dunia tahun ini bersama tuan rumah Kanada, Qatar, dan Swiss.