MADRID, Spanyol - Paus Leo XIV kembali mencuri perhatian dunia. Dalam kunjungan apostoliknya ke Spanyol, pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu berhasil mengumpulkan sekitar 1,2 juta umat dalam Misa Akbar di Plaza Cibeles, Madrid, pada Minggu (8/6). Jumlah ini menjadi salah satu kerumunan terbesar dalam sejarah kunjungan Paus ke negara tersebut.
Lautan manusia memadati jalan-jalan ibu kota Spanyol. Mereka melambai-lambaikan bendera dan meneriakkan 'Viva il Papa!' saat Paus Leo melintas dengan mobil kepausan putihnya. Suasana semakin meriah ketika beberapa umat melemparkan kelopak bunga menyambut kedatangannya. Plaza Cibeles sendiri selama ini dikenal sebagai titik kumpul fans Real Madrid saat merayakan gelar juara, namun kali berubah total menjadi lautan umat Katolik.
Dalam sambutannya, Paus Leo secara khusus memuji Madrid sebagai kota yang ramah dan inklusif. 'Semoga Madrid terus menjadi kota yang menyambut dan inklusif, di mana kehidupan sosial diilhami oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sejati,' tulisnya dalam buku tamu kota setelah menerima kunci kota dari wali kota setempat.
Kunjungan yang berlangsung 6-12 Juni ini menjadi yang pertama bagi Paus Leo ke negara Uni Eropa di luar Italia. Sebelum misa akbar, ia telah bertemu dengan para migran dan tunawisma serta menghadiri acara vigil bersama 600.000 anak muda. Rencananya, Paus akan melanjutkan perjalanan ke Barcelona dan Kepulauan Canary untuk bertemu langsung dengan para pengungsi yang selamat dari penyeberangan berbahaya dari Afrika Barat.
Analisis Dampak: Momen ini menunjukkan pesan kuat Paus Leo XIV tentang solidaritas dan inklusivitas di tengah meningkatnya sentimen anti-imigran di Eropa. Dengan memilih bertemu migran dan pengungsi di awal kunjungannya, Paus secara gamblang mengkritik kebijakan perbatasan yang ketat. Dikutip dari Associated Press, para analis politik menilai langkah ini sebagai 'soft power' Vatikan untuk mendorong negara-negara Eropa agar tidak memecah belah pemilih demi kepentingan politik jangka pendek. Bagi masyarakat Indonesia, kunjungan ini bisa menjadi refleksi tentang pentingnya nilai kemanusiaan di atas perbedaan latar belakang.