Washington, D.C. - Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini membuat pengumuman yang menghebohkan. Ia mengklaim telah mencapai “kesepakatan dagang” signifikan dengan India, yang mencakup janji New Delhi untuk berhenti membeli minyak dari Rusia. Kesepakatan ini, menurut Trump, akan membuka jalan bagi hubungan dagang yang lebih kuat antara kedua negara dengan PDB gabungan mencapai $33 triliun.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa Perdana Menteri India Narendra Modi telah sepakat untuk menghentikan pembelian minyak Rusia dan beralih ke pasokan dari Amerika Serikat, bahkan berpotensi dari Venezuela. Sebagai imbalannya, Washington akan memangkas tarif impor barang India dari 50 persen menjadi 18 persen. Trump juga berharap India akan menghapus bea masuk dan hambatan non-tarif untuk barang-barang AS hingga nol, serta berkomitmen untuk "Membeli Produk Amerika" dalam skala besar, termasuk energi, teknologi, pertanian, dan batubara senilai lebih dari $500 miliar.
Namun, di balik klaim yang bombastis ini, muncul banyak tanda tanya. Pihak India belum memberikan konfirmasi publik mengenai poin-poin krusial yang diutarakan Trump, terutama terkait penghentian pembelian minyak Rusia. Menteri Perdagangan India, Priyush Goyal, hanya menyatakan bahwa kedua negara akan segera menandatangani kesepakatan, tanpa merinci isi maupun janji-janji yang disebut Trump. Bahkan, pernyataan dari kedua belah pihak terkait detail kesepakatan ini dilaporkan sangat berbeda, memicu keraguan di kalangan pengamat geopolitik dan ekonom.
Jika kesepakatan ini benar adanya, dampaknya bagi India bisa sangat besar. Penghentian pembelian minyak Rusia, yang dikenal lebih murah, berpotensi menekan anggaran India dan memicu kenaikan harga energi bagi konsumen domestik. Tak heran jika PM Modi kini menghadapi kritik di dalam negeri menyusul pengumuman Trump yang serba mendadak dan belum terkonfirmasi ini. Keputusan semacam itu juga akan memiliki implikasi geopolitik yang signifikan, mengingat tekanan global terhadap Rusia dan upaya AS untuk mengisolasi Moskow pasca-konflik Ukraina.
Hubungan dagang AS-India sendiri sempat memburuk akibat "perang dagang" global yang dilancarkan Trump sebelumnya, di mana India menjadi salah satu korban terbesarnya. Kini, masa depan hubungan ekonomi kedua negara kembali diselimuti ketidakpastian. Publik menanti kejelasan resmi dari New Delhi terkait janji-janji yang disebut Trump, serta bagaimana kesepakatan ini akan memengaruhi arah kebijakan luar negeri dan ekonomi India ke depan.