Situasi geopolitik global kembali memanas. Rusia tak segan-segan mengancam akan mengambil langkah militer jika Amerika Serikat nekat menempatkan sistem pertahanan rudal Golden Dome di Greenland. Pernyataan tegas ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, kepada awak media di Kedutaan Besar Rusia di China pada Selasa lalu.
Ancaman dari Moskow ini datang hanya dua hari sebelum berakhirnya perjanjian New START, pakta kontrol senjata nuklir terakhir yang tersisa antara AS dan Rusia. Tanpa perpanjangan, dunia akan kehilangan satu-satunya rem pengatur kekuatan nuklir dua negara adidaya tersebut. Rusia sendiri telah mengajukan proposal untuk memperpanjang perjanjian ini satu tahun lagi, namun hingga kini belum ada respons dari Washington.
Ryabkov menekankan, jika AS tetap pada rencana Golden Dome di pulau Arktik itu, Rusia tidak akan tinggal diam dan siap mengambil "langkah kompensasi militer dan teknis". Isu penempatan Golden Dome ini sebelumnya mencuat setelah Presiden AS Donald Trump pada bulan lalu mengisyaratkan diskusi terkait program tersebut di Greenland. Bahkan, Trump sempat menyatakan keinginannya untuk membeli Greenland demi alasan keamanan nasional, meski ditentang keras oleh Denmark dan negara Eropa lainnya.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, secara terpisah memperingatkan bahwa dunia sedang menuju momen yang "berbahaya" dengan berakhirnya perjanjian nuklir ini. Meskipun demikian, Rusia menegaskan tidak akan memulai perlombaan senjata nuklir baru. Namun, mereka juga tak akan ragu mengambil tindakan jika merasa terancam.
Dampak bagi Masyarakat dan Geopolitik:
Berakhirnya New START dan ketegangan di Arktik membawa risiko besar. Pertama, tanpa pembatasan yang jelas, potensi perlombaan senjata nuklir baru antara AS dan Rusia bisa meningkat tajam, menciptakan ketidakstabilan global dan meningkatkan ancaman miskalkulasi yang dapat berakibat fatal. Kedua, kawasan Arktik, yang kaya sumber daya alam dan strategis untuk jalur pelayaran masa depan, kini menjadi medan persaingan kekuatan. Penempatan sistem rudal di sana bukan hanya ancaman bagi satu pihak, tapi juga memicu militerisasi wilayah yang sebelumnya relatif damai.
Ketiga, sikap AS yang belum merespons tawaran Rusia menunjukkan kurangnya kemauan untuk berdialog di tengah situasi krusial ini. Jika AS ingin dialog strategis berlanjut, Rusia mengisyaratkan Washington perlu mengubah pendekatan kebijakan luar negerinya. Kegagalan komunikasi di level tertinggi ini berpotensi menyeret dunia ke era ketidakpastian yang lebih besar, di mana risiko konflik tak terduga meningkat pesat.