Jakarta, CNN Indonesia -- Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-100. Konflik ini tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu krisis energi global dan memperburuk prospek ekonomi dunia.
Iran menyebut serangan yang dilancarkan pada 28 Februari lalu sebagai 'tindakan agresi yang tidak beralasan'. Perang ini kemudian meluas hingga ke negara-negara Teluk dan Lebanon. Meskipun gencatan senjata rapuh telah berlaku sejak 8 April, Israel tetap melanjutkan ofensifnya di Lebanon yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Sekutu Eropa Amerika Serikat memilih untuk tidak mengutuk serangan AS-Israel, namun mereka menolak terlibat langsung dalam perang dan menyatakan penolakan terhadap upaya pergantian rezim. Negara-negara Teluk justru mengutuk serangan Iran ke wilayah mereka. Sementara itu, Rusia dan China juga mendorong penghentian konflik.
Pakistan memainkan peran besar dalam mediasi, sementara negara-negara lain yang terdampak kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar mendesak solusi diplomatik. Sayangnya, diplomasi yang berlarut-larut belum membuahkan hasil signifikan.
Dampak di Oman: Negara yang menjadi mediator utama perundingan nuklir AS-Iran ini justru ikut terseret. Pelabuhan komersial Duqm dan Salalah dihantam serangan drone, menyebabkan dua warga asing tewas. Menlu Oman, Badr Albusaidi, menulis di The Economist bahwa AS 'kehilangan kendali atas kebijakan luar negerinya sendiri' dan menuding Israel memperkeruh situasi.
Analisis Dampak: Perang ini mengingatkan kita pada krisis minyak 1973. Jika konflik meluas ke Selat Hormuz, harga minyak bisa tembus 150 dolar AS per barel. Indonesia harus bersiap menghadapi lonjakan harga BBM dan inflasi impor. Selain itu, potensi serangan siber dari kelompok pro-Iran terhadap infrastruktur energi global juga meningkat.