MOSKOW, RIAU24.COM – Tiga kata menjadi identitas baru Rusia di tahun 2026: tanpa malu, tanpa penyesalan, dan tanpa kompromi. Hal ini tercermin dari pernyataan keras penyanyi legendaris Nadezhda Babkina yang baru saja menerima penghargaan dari Presiden Vladimir Putin. Di hadapan audiens di Kremlin, ia dengan tegas menyatakan, "Rusia tidak akan pernah menyerah berkat kode genetik multi-etnis kita yang luar biasa... Siapa pun yang tidak suka, silakan pergi dan racuni diri mereka sendiri."
Komentar kontroversial itu dinilai sebagai cerminan sikap Kremlin saat ini. Sejak melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, Putin tidak pernah menunjukkan sedikit pun penyesalan. Bahkan di tengah forum ekonomi internasional bergengsi di St Petersburg, Rusia tetap meluncurkan serangan rudal dan drone massal ke Ukraina. Ironisnya, meski investor Barat sudah lama angkat kaki, forum tersebut tetap dihadiri delegasi dari lebih 130 negara.
Namun, ada satu perubahan di dalam Kremlin. Harapan Rusia terhadap peran mantan Presiden AS Donald Trump mulai memudar. Setelah pertemuan puncak di Anchorage, Alaska tahun lalu, para pejabat Rusia sempat optimis Trump akan memaksakan kesepakatan damai yang menguntungkan Moskow. Tapi hingga kini, tidak ada kesepakatan yang terwujud. Penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, bahkan mengaku tidak pernah menggunakan istilah 'semangat Anchorage'. Ini menandakan frustrasi yang semakin dalam di pihak Kremlin.
Ditambah lagi, apa yang direncanakan sebagai 'operasi militer khusus' jangka pendek kini telah berubah menjadi perang gesekan berdarah yang memasuki tahun kelima. Rusia menderita kerugian besar di medan perang, kerusakan ekonomi yang signifikan, serta kemunduran teknologi. Sikap keras kepala ini jelas berdampak pada isolasi internasional Rusia dan prospek investasi asing yang semakin suram.