Gelombang serangan siber kembali mengguncang Eropa. Kali ini, sasarannya bukan data nasabah, melainkan sistem pendingin di jaringan toko kelontong di Swedia, Belgia, dan Luksemburg. Insiden ini memicu kenaikan suhu lemari es dan freezer secara tiba-tiba, mengancam kualitas makanan hingga memicu potensi kerugian besar.
Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Swedia, John Billow, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menangani berbagai insiden yang melumpuhkan sistem pendingin toko. Jaringan ritel besar seperti ICA dan Coop melaporkan lonjakan suhu yang terjadi secara mendadak pada malam hari. Di Belgia dan Luksemburg, laporan serupa dialami oleh puluhan gerai Ahold Delhaize, yang diduga kuat akibat serangan siber pada perusahaan pendingin Sabcobel.
Insiden ini bukan yang pertama. Sebelumnya, serangan serupa di Prancis sempat membuat suhu freezer melonjak hingga 50 derajat Celsius, merusak stok makanan, dan memicu kebakaran di beberapa toko. Meski pihak berwenang belum merinci motif di balik serangan ini, kejadian tersebut menjadi alarm keras bagi sektor ritel global. Pakar keamanan siber menilai celah keamanan pada perangkat Internet of Things (IoT) menjadi pintu masuk utama. Dampaknya bagi masyarakat sangat langsung: risiko makanan tidak layak konsumsi hingga potensi kelangkaan stok di rak-rak toko jika sistem tidak segera pulih.