Kekerasan terhadap petani zaitun Palestina di Tepi Barat meledak drastis sepanjang musim panen 2025. Data terbaru PBB mencatat lebih dari 200 serangan oleh pemukim Israel sejak 1 September, angka yang sudah melampaui total serangan sepanjang tahun lalu. Korban pun berjatuhan: satu orang tewas, lebih dari 120 luka-luka, dan ribuan pohon zaitun dirusak.
Yang bikin situasi makin panas, aksi anarkis ini nggak cuma menyasar warga lokal. Seorang jurnalis foto Washington Post, Heidi Levine (63), jadi korban penganiayaan brutal hingga tulang rusuknya patah dan harus jalani operasi tangan. Belum reda, giliran delegasi diplomatik yang diserang di Taybeh. Konsul Jenderal Belgia, diplomat Prancis dan Polandia, serta perwakilan gereja jadi sasaran amuk massa. Kaca mobil konsulat pecah, dan seorang wali kota asal Prancis berusia 78 tahun ikut jadi korban pemukulan.
Melihat eskalasi ini, komunitas internasional bereaksi keras. Amerika Serikat menyatakan 'sangat terganggu', sementara Prancis menuntut penangkapan para pelaku. Uni Eropa menekan Israel untuk bertanggung jawab penuh. Militer Israel sendiri menyebut insiden Taybeh sebagai kejadian 'parah', namun aksi kekerasan di lapangan tampaknya masih sulit dibendung.
Analisis Dampak: Serangan yang didukung oleh tokoh agama garis keras ini bukan sekadar konflik lahan, tapi sudah merambah ke ranah diplomatik. Insiden ini mencoreng citra Israel di mata sekutu-sekutunya dan berpotensi memicu krisis diplomasi yang lebih luas. Bagi masyarakat Palestina, panen zaitun yang seharusnya menjadi sumber penghidupan berubah menjadi mimpi buruk yang mengancam nyawa dan ekonomi mereka.