Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa siapa pun yang berharap kebijakan Amerika Serikat terhadap negaranya berubah setelah kekalahan Partai Republik di pemilihan midterm adalah orang yang salah besar. Pernyataan ini muncul tepat setelah hasil pemilu AS menunjukkan kemenangan besar bagi Partai Demokrat yang berhasil menguasai kedua kamar Kongres.
Meski begitu, sejumlah pejabat Iran lainnya justru menyambut hasil pemilu tersebut dengan nada lebih optimistis. Mereka menilai kekalahan Partai Republik sebagai bentuk penolakan rakyat AS terhadap kebijakan perang pemerintahan Trump. Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran yang juga negosiator utama dengan Washington, menyebut bahwa rakyat Amerika telah mengatakan 'TIDAK' pada perang, dan Iran mendukung pesan tersebut.
Khamenei dalam pernyataan tertulisnya juga menyinggung soal penguasaan Iran atas Selat Hormuz yang disebutnya telah menghancurkan mitos bahwa Amerika Serikat tidak terkalahkan. Ia memperingatkan bahwa serangan AS yang baru akan memicu respons yang jauh lebih luas. Sementara itu, Trump sendiri mengakui bahwa konflik militer AS-Israel dengan Iran yang dimulai Februari lalu kemungkinan besar berdampak pada buruknya performa Partai Republik di pemilu, karena pemilih dianggap belum siap dengan konsekuensi jangka pendek berupa naiknya harga bensin.
Analisis Dampak: Kemenangan Demokrat di Kongres memang tidak serta-merta mengubah kebijakan luar negeri AS yang cenderung agresif terhadap Iran, mengingat isu ini sering kali bersifat bipartizan. Namun, pernyataan Khamenei menunjukkan bahwa Teheran tetap waspada dan tidak mau lengah. Bagi masyarakat global, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi momok karena jalur pelayaran strategis ini mengangkut seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia. Jika konflik kembali memanas, harga energi global berpotensi melonjak dan memicu inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.